Abstract :
Perusahaan pelayaran nasional tidak dapat berkompetisi dengan
perusahaan asing. Kendala yang dihadapi oleh perusahaan pelayaran adalah
masalah keterbatasan sumberdaya manusia. Oleh karena itu, perlu adanya
pendidikan dan pelatihan dalam meningkatkan SDM jasa pelayaran dan
ekspedisi laut. Penyebab lain yang mungkin menyebabkan perusahaan
pelayaran nasional tidak mampu bersaing adalah kualitas pelayanan yang
kurang memuaskan kepada konsumen, padahal kualitas pelayanan menjadi
hal utama yang mendasari konsumen untuk memilih menggunakan jasa
pelayaran.
Masalah pelayanan kepada konsumen, merupakan masalah yang
sering dihadapi oleh perusahaan jasa. Dan cara untuk mengatasinya adalah
dengan menciptakan budaya organisasi yang dapat mempengaruhi kualitas
pelayanan di perusahaan. Karena budaya organisasi merupakan faktor
penting dalam mempengaruhi karyawan untuk dapat memberikan yang
terbaik bagi perusahaan. Budaya organisasi merupakan suatu kontrol yang
dapat mengendalikan karyawan agar dapat bekerja sesuai dengan tujuan
perusahaan. Kontrol tersebut adalah personnel dan cultural controls.
PT."X" merupakan perusahaan yang bergerak di bidang
pengangkutan laut. PT. "X" yang berada di Surabaya merupakan kantor
cabang dari agen pelayaran intemasional dengan rute pelayaran ke daerah
Timur Tengah saperti Irak, Kuwait, dan Dubai. Budaya kerja yang berada
di PT. "X" adalah budaya dimana para karyawan harus berhubungan dengan
kantor pusat, sedangkan jika untuk hal-hal internal yang berada di badan
usaha, para karyawan berhubungan dengan pemimpin cabang.
Di dalam bekerja, para karyawan bekerja secara tim, karena
pekerjaan di antara satu bagian dengan bagian lain saling berhubungan.
Sehingga perlu adanya kerjasama di antara bagian. Kerjasama ini dapat
memperkecil kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi pada suatu bagian.
Dan Hal inilah yang diharapkan oleh badan usaha, karena kesalahan-kesalahan
yang terjadi pada suatu bagian dapat berakibat fatal pada seluruh
bagian.
Cultural control yang berada di PT. "X" adalah mutual monitoring
yang terdapat di antara para karyawan, dimana para karyawan tidak
sungkan-sungkan untuk menegur karyawan yang lalai dalam melakukan
tugasnya. Sedangkan personnel control yang berada di PT. "X" adalah self
monitoring yang terbentuk dalam diri para karyawan, karena rasa tanggung
jawab mereka terhadap pekerjaannya. Selain itu, self monitoring ini
terbentuk karena para karyawan pada setiap bagian mempunyai deadline dalam menyelesaikan pekerjaannya sehingga mereka harus segera
menyelesaikan segala sesuatu yang menjadi tugas dan wewenangnya.
Personnel dan cultural controls yang berada di PT."X" tidak sepenuhnya
sempuma, karena masih banyak kelemahan yang terdapat didalamnnya.
Namun demikian, ada juga kekuatan yang terdapat pada personnel dan
cultural controls ini sehingga kekuatan ini dapat menutupi kelemahan yang
ada.
Motivasi karyawan di dalam bekerja merupakan hal yang sangat
penting untuk dapat tercapainya tujuan badan usaha. Terlebih lagi badan
usaha ini bergerak di bidang jasa, sehingga jika karyawan termotivasi dalam
bekerja maka karyawan tersebut akan bekerja giat dengan memberikan
layanan yang baik kepada para pelanggan. Berdasarkan dari hasil
wawancara dengan para karyawan, dapat diketahui bahwa karyawan tidak
sepenuhnya termotivasi di dalam bekerja, tapi bukan berarti karyawan tersebut tidak termotivasi di dalam bekerja.