Abstract :
Tuntutan reformasi yang menggema di Indonesia terjadi akibat krisis
ekonomi yang berkepanjangan sejak akhir 1997. Tekanan-te.kanan agar proses
demokratisasi dapat berjalan lancar tidak hanya dilakukan di dalam negeri tetapi
juga dunia internasional yang berkepentingan dengan Indonesia. Tekanan
intemasional ini tentu tidak dapat diabaikan mengingat ketergantungan Indonesia
terhadap luar negeri yang begitu tinggi.
Proses demokratisasi tersebut diwujudkan dalam penyelenggaraan Pemilu
yang jujur dan adil serta kelancaran Sidang Umwn MPR. Para pelaku pasar di
Bursa Efek Jakarta sangat menantikan proses ini dengan harapan dapat berjalan
aman dan lancar. Peristiwa yang sangat ditunggu adalah pemilihan presiden dan
wakil presiden pada Sidang Umum MPR karena peristiwa ini merupakan tonggak
berdirinya pemerintahan baru.
Peristiwa pemilihan presiden pada tanggal 20 Oktober 1999 ternyata
direspon pelaku pasar dengan eksplosif. Frekuensi perdagangan yang melebihi
70.000, order transaksi mencapai 140.000, serta nilai perdagangan Rp 3,1 triliun
sudah diluar kapasitas mesin JATS (Jakarta Automatic Trading Systems).
Sedangkan rata-rata frekuensi perdagangan selama 1 - 1 0 Oktober 1999 adalah
16.649 dengan rata-rata nilai perdagangan Rp 547,6 miliar. Sebagai akibat
tingginya frekuensi perdagangan dan order transaksi tersebut, perdagangan. sempat
dihentikan sementara (suspend). Fenomena inilah yang akan diteliti untuk
memperoleh gambaran umum Bursa Efek Jakarta sebagai pasar modal di
Indonesia.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif - event study.
Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah
berlangsung pada saat riset dilakukan. Sedangkan penelitian event study
mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang bersifat publik.
Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information
content) dari suatu pengumuman dan dapat juga digunakan untuk menguji
efisiensi pasar bentuk setengah kuat.
Penelitian ini ingin mengetahui apakah terjadi abnormal return saat
pemilihan presiden dan wakil presiden. Adanya abnormal return yang signifikan
menyebabkan Bursa Efek Jakarta sebagai pasar modal di Indonesia dinyatakan
tidak efisien bentuk setengah kuat