Abstract :
Sebagai perusahaan yang memproduksi salah satu komponen kendaraan
bermotor, yaitu cylinder liner, PT. Aneka Banusakti harus meningkatkan
kinerjanya terus-menerus mengingat kebutuhan akan komponen kendaraan
bermotor di masa datang akan semakin meningkat. Salah satu cara meningkatkan
kinerja perusahaan adalah meningkatkan kinerja seksi-seksi yang terlibat dalam
proses produksi dengan cara memenuhi kebutuhannya terhadap seksi yang lain.
Dengan demikian perumusan masalah dalam penelitian ini adalah kebutuhan apa
saja yang belum dapat dipenuhi oleh masing-masing seksi dan bagaimana cara
memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Pada penelitian ini seksi-seksi yang terlibat dalam proses foundry dan
seksi yang terlibat dalam proses machining diukur kinerjanya untuk mengetahui
apakah tiap seksi sudah dapat memenuhi kebutuhan seksi yang lain dengan baik.
Kriteria yang dipakai dalam pengukuran kinerja adalah persentase reject dan
persentase penyimpangan produksi. Agar kebutuhan-kebutuhan tersebut
terpenuhi, maka dilakukan perbaikan pada seksi-seksi yang bertanggung jawab
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Pada semester pertama kinerja proses foundry bernilai 1,789, sedangkan
pada semester kedua bernilai 1,362, menurun sebesar 23,857% dari kinerja pada
semester pertama. Kinerja proses machining pada semester pertama dan kedua
memiliki nilai yang sama, yaitu 1,748. Dari hasil pengukuran tersebut dapat
diketahui bahwa kinerja proses machining lebih baik dibandingkan kinerja proses
foundry. Oleh karena itu, perbaikan dilakukan terhadap seksi-seksi yang
bertanggung jawab terhadap penyebab reject dan penyimpangan produksi pada
proses foundry.
Perbaikan dilakukan dengan membuat HOQ untuk seksi-seksi yang akan
diperbaiki. Yang menjadi sisi what HOQ suatu seksi adalah penyebab reject dan
penyimpangan produksi yang menjadi tanggung jawab seksi tersebut dan keluhan
terhadap seksi tersebut. Dengan berdiskusi dengan pihak perusahaan, maka
ditentukan langkah-langkah perbaikan. Langkah-langkah perbaikan tersebut
kemudian diturunkan lagi menjadi action plan agar dapat direalisasikan.
Dari HOQ core section tampak bahwa langkah perbaikan yang harus
diprioritaskan adalah pelatihan karyawan tentang proses pembuatan core,
pengontrolan core box pada saat job set up, pelatihan karyawan tentang proses
coating, standar ketebalan dan kerataan coating, dan penetapan ulang standar
umur pakai core box. Sedangkan langkah-langkah perbaikan yang menjadi
prioritas di melting, centrifugal, dan fettling section adalah pelatihan karyawan
dalam membersihkan logam cair, kualitas slag remover, pengadaan sikat untuk
membersihkan tabung centrifugal, perbaikan work instruction tentang
pembersihan tabung centrifugal, merealisasikan bentuk saluran masuk cairan yang
telah didesain ulang, kualitas Ferro Silikon, memotivasi karyawan tentang
pentingnya pembersihan hand ladle, memperketat frekuensi pembersihan hand
ladle, meningkatkan ketepatan karyawan dalam mengadjust komposisi kimia,
meningkatkan ketepatan karyawan dalam mencatat temperatur tapping.