Abstract :
PT "XYZ" adalah perusahaan yang memproduksi engsel pintu dan jendela.
Sebagai perusahaan yang tergolong baru berdiri, PT "XYZ" harus memikirkan strategi
yang tepat agar dapat bertahan dan bersaing. Selama ini tolok ukur kinerja perusahaan
hanyalah dari laporan keuangan. Persaingan yang ketat dan perkembangan perusahaan
menuntut pengukuran yang lebih kompleks dan relevan untuk memenuhi kebutuhan
informasi perusahaan. Karena itu diperlukan pengukuran kinerja yang mencakup aspek
.financial, customer, internal business process dan learning and growth.
Pengukuran kinerja dengan metode Balanced Scorecard dapat memenuhi
kebutuhan perusahaan. Pengukuran Balanced Scorecard berawal dari menentukan visi,
misi dan strategi PT "XYZ". Strategi yang tepat sangat membantu dalam menjalankan
misi dan pencapaian visi perusahaan. Strategi PT "XYZ" dirumuskan berdasarkan
Strength, Weakness, Opportunity dan Threat dari PT "XYZ". Selanjutnya strategi
dihubungkan dengan critical success factors dari empat perspective Balanced
Scorecard.
Pada financial perspective PT "XYZ" menggunakan tolok ukur Current Ratio,
Sales Growth Ratio, Return on Assets, Fixed Assets Turnover, Percentage Sales from
New Customer. Pada customer perspective tolok ukur yang digunakan adalah Customer
Retention, Percentage of New Customer, On Time Delivery Percentage of Complaint,
Price Index, Sales Return. Pada internal business process perspective menggunakan
tolok ukur Supplier Lead Time, Output per Material, Percentage of Defective Units,
Idle Capacity, Manufacturing Cycle Effectiveness, Number of Preventive Maintenance,
HPP per KWH. Pada learning and growth perspective menggunakan tolok ukur
Fmp/oyee Turnover, Rasio keluhan, Suggestion Rate, Absenteeism, Tardiness,
Fmp/oyee productivity, Percentage of New Employee, Employee Training. Dari tolok
ukur akan ditetapkan target dan bobot kepentingan. Penetapan target mempengaruhi
kriteria penilaian dari scorecard yang akan dibuat. Selain penetapan target dan kriteria
penilaian, tiap-tiap tolok ukur dan perspective akan diberikan bobot kepentingan
dengan menggunakan Pairwise Comparison dari metode Analitycal Hierarchy Process.
Dari hasil pengukuran rancangan Balanced Scorecard diperoleh hasil kinerja
keseluruhan PT "XYZ" tahun 1999 adalah kurang baik dengan total penilaian 1,525,
sedangkan kinerja tahun 2000 meningkat menjadi cukup baik dengan total penilaian
2,076. Peningkatan ini karena adanya peningkatan nilai pada financial perspective,
internal business process perspective dan learning and growth perspective. Untuk
customer perspective mengalami sedikit penurunan nilai pada tahun 2000.
Selanjutnya dari hasil pengukuran Balanced Scorecard diketahui tolok ukur
yang menyebabkan kinerja PT "XYZ" lemah dan perlu diperbaiki berdasarkan prioritas
perbaikan. Yang mendapat prioritas perbaikan utama adalah on time delivery. Untuk itu
perlu ditentukan inisiatif perbaikannya. Dalam menentukan inisiatif perbaikan yang
paling berpengaruh pada tolok ukur-tolok ukur itu digunakan metode Quality Function
Deployment dengan membuat matriks House of Quality yaitu matriks inisiatif. Untuk
mengetahui departemen mana saja yang terkait dengan inisiatif perbaikan dibuat
matriks departemen. Dari matriks itu diketahui departemen yang paling berpengaruh
bagi pelaksanaan inisiatif perbaikan adalah departemen produksi dan pabrik. Kemudian
dibuat matriks action plan yang berisikan action plan dari inisiatif perbaikan sesuai
dengan departemen yang terkait. Pada matriks ini juga diinformasikan apakah action
plan-action plan tersebut sudah direalisasikan oleh perusahaan atau belum.