Abstract :
PT. Surabaya Press Board adalah perusahaan yang bergerak di bidang
industri particle board. Selama ini persentase cacat yang terjadi pada produk
particle board masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena perusahaan belum
mempunyai metode pengendalian kualitas yang baik sehingga tidak diketahui
secara pasti faktor-faktor penyebab cacat yang terjadi.
Dengan adanya masalah tersebut diperlukan usaha pengendalian kualitas
dengan menggunakan suatu metode yang cocok. Untuk mengendalikan jumlah
cacat yang terjadi dilakukan dengan alat-alat evaluasi mutu, yaitu diagram pareto
untuk menentukan prioritas jenis cacat yang akan dikendalikan, peta kontrol,
pembuatan diagram ishikawa masing-masing jenis cacat untuk merancang
perbaikan yang akan dilaksanakan. Hasil rancangan perbaikan kemudian
diimplementasikan.
Dari hasil analisis awal untuk particle board ukuran 12 mm dan 8 mm
didapatkan bahwa peta kontrol p dan u dalam keadaan terkendali, meskipun
persentase cacat yang terjadi cukup tinggi khususnya pada cacat kropos.
Setelah dilakukan usaha perbaikan ( implementasi) pada metode kerja yang
sesuai dengan usulan perbaikan yang dirancang, dari analisis hasil yang diperoleh
menunjukkan adanya penurunan persentase cacat untuk setiap jenis cacat, yaitu
dari 41.03% menjadi 22.62% untuk cacat kropos, 4.7% menjadi 2.62% untuk
cacat melepuh, 1.73% menjadi 0.85% untuk cacat melengkung, dan 1.18%
menjadi 0.42% untuk cacat cuil. Dari analisis peta kontrol perbaikan
menunjukkan bahwa proses dalam keadaan terkendali, perubahan hanya terjadi
pada pengurangan persentase cacat saja, untuk urutan jenis cacat tidak berubah.
Selain itu terjadi penurunan persentase cacat produk secara keseluruhan dari
9.83% menjadi 6.48%. Untuk biaya kualitas juga terjadi penurunan dari
Rp75.186.000/bulan menjadi Rp51.825.000/bulan, sehingga terdapat
penghematan biaya kualitas sebesar Rp 23.343.000/bulan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil dari implementasi perbaikan yang
dilakukan untuk memperbaiki kualitas proses produksi particle board dapat
dikatakan cukup berhasil, di mana persentase cacat tinggi khususnya cacat kropos
mengalami penurunan persentase cacat, dan penurunan produk cacat secara
keseluruhan. Selain itu juga terjadi penghematan biaya kualitas.