Abstract :
PT. "X'' adalah anak perusahaan yang bergerak di bidang tekstil dan
mempunyai dua departemen, yaitu departemen spinning dan departemen weaving.
Departemen spinning berkontribusi 80% dari keseluruhan pendapatan perusahaan,
sehingga penelitian dilakukan pada departemen spinning. Dalam persaingan yang
ketat perusahaan perlu memperhatikan kepuasan konsumen secara total untuk
menjaga hubungan jangka panjang dengan konsumen. Karena itu diperlukan
pengukuran performansi logistik perusahaan yang mencakup aspek supplier,
purchasing, material management, transportation sub-contractor, dispatching,
dan customer service.
Pengukuran performansi logistik dengan menggunakan konsep Balanced
Scorecard dapat memenuhi kebutuhan perusahaan. Pengukuran performansi
logistik berawal dari menentukan visi, misi dan strategi PT. "X''. Strategi yang
tepat sangat membantu dalam menjalankan misi dan pencapaian visi. Strategi
dihubungkan dengan pengukuran performansi logistik dengan enam aspek.
Pada aspek supplier PT. "X" menggunakan tolok ukur yang berkaitan
dengan ketepatan pengiriman dan kualitas produk. Pada aspek purchasing, tolok
ukur berhubungan dengan pemilihan supplier, pemeliharaan hubungan dengan
supplier, dan persediaan bahan baku, bahan pendukung dan suku cadang. Pada
aspek material management, tolok ukur berkaitan dengan aliran material dalam
perusahaan. Pada aspek transportation sub-contractor menggunakan tolok ukur
yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan truk, ketepatan pengiriman, dan
penjagaan kualitas produk selama pengiriman. Aspek dispatching, tolok ukur
berkaitan dengan pemanfaatan truk, dan pemilihan sub-kontraktor. Aspek
customer service menggunakan tolok ukur prosentase keluhan konsumen
mengenai kualitas produk. Dari tolok ukur akan ditetapkan target. Tiap tolok ukur
dan aspek akan diberikan bobot kepentingan menggunakan Pairwise Comparison
dari metode Analytical Hierarchy Process.
Dari hasil pengukuran performansi logistik, diperoleh hasil performansi
logistik total PT. "X'' periode 1 adalah cukup baik dengan nilai 2.238, periode 2
adalah cukup baik dengan nilai 2 .182, dan periode 3 meningkat menjadi baik
dengan nilai 2. 441.
Dari hasil pengukuran performansi diketahui tolok ukur yang lemah dan
perlu diperbaiki berdasarkan prioritas perbaikan. Yang mendapat prioritas
perbaikan adalah utilisasi mesin, dan efisiensi kerja. Untuk itu perlu ditentukan
inisiatif perbaikan yang ditentukan menggunakan metode Quality Function
Deployment dengan membuat matriks House of Quality yaitu matriks inisiatif.
Perbaikan yang dilakukan adalah perbaikan prosedur pemesanan produk baru,
penjadwalan perawatan mesin, peningkatan Gugus Kendali Mutu, dan pemberian
training metode kerja baru. Untuk mengetahui departemen yang terkait dengan
inisiatif perbaikan dibuat matriks departemen dan diketahui bagian produksi yang
paling berpengaruh. Kemudian dibuat matriks action plan yang berisi action plan
dari inisiatif perbaikan sesuai dengan departemen yang terkait.