Abstract :
Garam yang sering juga disebut garam dapur dengan nama kimia Natrium Clorida (NaCl)
berasal dari garam rakyat yang dihasilkan oleh para petani tambak garam. Proses pembuatan
garam rakyat ini masih sangat sederhana, yaitu dengan cara menguapkan air laut dengan bantuan
panas matahari dan angin.
Para petani tambak garam membuat garam rakyat secara manual dengan menggunakan
peralatan seperti slender, kincir angin, sorkot, ebor, dan sekop. Sekop yang digunakan umumnya
dibeli, sedangkan slender, kincir angin, sorkot, dan ebor dibuat sendiri. Cara pembuatan peralatan-peralatan
tersebut sangat sederhana dan tidak mengikuti suatu standard atau pedoman tertentu,
sehingga hasilnya sangat bervariasi dan cenderung tidak ergonomis
Berdasarkan pengamatan awal dan wawancara lisan terhadap para petani tambak garam
dapat diketahui adanya keluhan rasa lelah terutama pada bagian leher, punggung, pinggang, dan
telapak tangan. Selain itu, para petani tambak garam juga mengeluh mengalami sakit (gangguan
kesehatan) pada bagian mata dan kulit.
Rasa lelah dan sakit (gangguan kesehatan) yang dialami oleh para petani tambak garam
mengindikasikan kurang terpenuhinya aspek ergonomi dan kesehatan kerja secara maksimal dalam
sistem kerja di tambak garam. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan menggunakan kriteria
psikofisik (tingkat rasa lelah dan sakit/gangguan kesehatan) dan kriteria fisiologis (tingkat
konsumsi energi).
Untuk mengetahui tingkat rasa lelah dan sakit (gangguan kesehatan) yang dialami para
petani tambak garam, maka disebarkan kuesioner awal. Sedangkan untuk mengetahui tingkat
konsumsi energi yang dibutuhkan para petani tambak garam, maka dilak-ukan pengukuran denyut
jantung awal.
Setelah data-data yang dibutuhkan terkumpul, kemudian dilakukan pengolahan lebih lanjut
dan dibuat diagram Fault Tree Analysis. Berdasarkan diagram Fault Tree Analysis diketahui
bahwa peralatan kerja (slender dan sorkot), kondisi lingkungan kerja (sinar matahari), dan bahan
baku (air laut) merupakan unsur-unsur pembentuk sistem kerja yang menyebabkan rasa lelah dan
sakit. Oleh karena itu dilakukan perancangan perbaikan terhadap slender dan sorkot dengan
menggunakan pendekatan ergonomi dan disediakan alat-alat pelindung diri (kaca mata buram,
sarong tangan karet, dan sepatu karet) untuk melindungi petani tambak garam dari pengaruh sinar
matahari dan air laut.
Hasil perancangan perbaikan slender dan sorkot serta alat-alat pelindung diri
diimplementasikan terhadap petani tambak garam, kemudian disebarkan kuesioner akhir dan
dilakukan pengukuran denyut jantung setelah implementasi perbaikan. Kemudian dilakukan
analisis perbandingan terhadap tingkat rasa lelah, tingkat konsumsi energi, dan tingkat rasa sakit
(gangguan kesehatan) yang dialami pada kondisi awal dan setelah implementasi perbaikan.
Berdasarkan hasil analisis perbandingan tersebut, diketahui bahwa terjadi penurunan tingkat
rasa lelah sebesar 66,66667% setelah menggunakan slender dan sorkot hasil rancangan perbaikan.
Selain itu, juga diketahui bahwa tingkat konsumsi energi minimum terjadi saat petani tambak
garam menggunakan peralatan hasil rancangan perbaikan dan alat-alat pelindung diri Sedangkan
tingkat rasa lelah (gangguan kesehatan) dapat direduksi, sehingga jenis sakit (gangguan kesehatan)
yang masih dikeluhkan hanya warna kulit yang lebih gelap dan kulit terasa lebih tebal.