Abstract :
Dalam menghadapi era persaingan bebas, perusahaan yang ingin maju dan
berkembang harus dapat meningkatkan kemampuan dan keunggulan bersaing. Unsur
terpenting bagi perusahaan agar dapat meningkatkan daya saing adalah perusahaan
tersebut harus mampu menghasilkan produk yang kualitasnya lebih baik
dibandingkan dengan para pesaingnya.
PT. Vertex adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang furniture yang
bekerja atas dasar pesanan (job order). Produk yang dihasilkan oleh PT Vertex terdiri
atas beberapa macam, antara lain kursi taman, kursi bar, meja makan, tempat tidur,
cermin, lampu hias, tempat CD, rak botol, dan sebagainya, yang termasuk dalam
persaingan tersebut, sehingga perusahaan juga harus memperhatikan efisiensi serta
produktivitas perusahaan. Namun, dalam melakukan aktivitas produksinya selama ini
perusahaan belum mengetahui secara pasti tingkat cacat yang terjadi, penyebabnya,
hal ini dikarenakan sistem pencatatan yang kurang baik. Maka dilakukan penelitian
untuk mengidentifikasi secara pasti tingkat cacat yang terjadi, penyebabnya, sehingga
dapat dicari penyelesaiannya untuk mengurangi cacat tersebut dan meningkatkan
produktivitas serta efisiensi perusahaan.
Karakteristik cacat yang terjadi yaitu karakteristik cacat atribut berupa cacat
ukuran tidak sesuai pada proses potong, cacat bentuk tidak sesuai pada proses
bending, cacat las putus pada proses perakitan, cacat karat dan minyak pada proses
pretreatment dan cacat chipping, warna tidak rata, baret pada proses painting. Setelah
melakukan pengumpulan data kemudian dibuat peta kontrol p untuk proses potong,
bending dan perakitan serta peta kontrol u untuk proses pretreatment dan painting.
Berdasarkan diagram pareto, cacat yang paling sering terjadi selama ini ternyata
berada di proses potong, bending, rakit, pretreatment dan painting. Cacat ini
disebabkan karena selama ini belum adanya prosedur kerja yang standard, belum
adanya standard setting yang baku, operator yang kurang teliti dan kurang terampil,
maupun motivasi kerja operator yang kurang.
Dengan melakukan beberapa perbaikan, yaitu membuat standard setting,
membuat prosedur kerja, training bagi operator, pemberian teguran kepada operator
yang terlalu banyak melakukan kesalahan, pengawasan terhadap operator lebih
ditingkatkan, dapat menurunkan persentase cacat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa dari hasil implementasi perbaikan yang
dilakukan untuk memperbaiki kualitas proses produksi kursi dapat dikatakan cukup
berhasil, dimana persentase cacat mengalami penurunan yaitu cacat ukuran tidak
sesuai dari 0,0498 menjadi 0,0386, cacat bentuk tidak sesuai dari 0,0409 menjadi
0,0342, cacat las putus dari 0,0348 menjadi 0,0231, cacat karat dari 0,0329 menjadi
0,0249, cacat minyak dari 0,029 menjadi 0,0199, cacat chipping dari 0,0238 menjadi
0,0172, cacat warna tidak rata dari 0,0275 menjadi 0,0204 dan cacat baret dari 0,0226
menjadi 0,0154.