Abstract :
Persaingan dalam dunia usaha menuntut setiap perusahaan baik
manufaktur maupun jasa untuk selalu melakukan perbaikan di segala bidang.
Tuntutan ini mengharuskan PT 'X' untuk menerapkan strategi yang tepat agar
dapat tetap bertahan dan bersaing. PT 'X' sebagai perusahaan percetakan, juga
perlu melakukan pengukuran pada kinerjanya secara keseluruhan untuk dapat
mengetahui bagian perusahaan yang masih memerlukan perbaikan. Oleh karena
itu, terlebih dahulu perusahaan harus melakukan pengukuran performansi logistik.
Pengukuran performansi logistik ini menggunakan konsep Balanced
Scorecard yang diawali dengan menghubungkan visi, misi dan strategi
perusahaan. Strategi ini kemudian dihubungkan dengan pengukuran performansi
logistik perusahaan melalui lima sudut pandang, yaitu perspektif marketing &
selling, purchasing. material flow management. transportation dan perspektif
service. Dari kriteria-kriteria tersebut ditentukan tujuan, kriteria pengukuran, dan
target yang dapat digunakan sebagai dasar pengukuran kinerja perusahaan.
Pada perspektif marketing & selling, kriteria yang digunakan berkaitan
dengan kecepatan menangani order masuk, dan persiapan pengiriman order.
Kriteria perspektif purchasing berhubungan dengan pemilihan supplier,
pemesanan produk dan kemampuan mengatur stok. Kriteria perspektif material
flow management, berhubungan dengan efisiensi pada lantai produksi. Kriteria
perspektif transportation berhubungan dengan kemampuan mengirim order tepat
waktu kepada pelanggan. Dalam perspektif service, diukur kriteria yang
berhubungan dengan kemampuan perusahaan memenuhi pesanan sesuai
permintaan pelanggan. Untuk mendukung analisis perbaikan dalam perspektif
purchasing. diukur performansi supplier dalam perspektif supply management
dengan kriteria yang berkaitan dengan kualitas bahan baku, dan kemampuan
supplier memenuhi permintaan perusahaan.Dari tiap kriteria ditetapkan target
yang ingin dicapai, kemudian tiap perspektif dan kriteria pengukuran diberi bobot
sesuai tingkat kepentingannya dalam performansi logistik perusahaan dengan
menggunakan metode Analytical Hierarchy Process.
Secara umum, performansi logistik PT 'X' tergolong cukup baik. Periode
Juli-September 2001 nilai 2.126733, periode Oktober-Desember 2001 nilai
2. 104614, periode Januari-Maret 2002 mencapai 2.248962, sedangkan pada
periode April-Juni 2002 mencapai kategori baik (nilai=2.395836).
Dari hasil pengukuran, diperoleh kriteria yang belum mencapai target, dan
dari hasil kuesioner kepada pelanggan, diperoleh kriteria dengan nilai kepentingan
di atas rata-rata, namun nilai kepuasan di bawah rata-rata. Dengan metode Quality
Function Deployment, ditentukan inisiatif perbaikan untuk tiap kriteria yang
lemah tersebut menggunakan matriks· House of Quality, yaitu matriks inisiatif
untuk menentukan prioritas inisiatif perbaikan yang harus dilakukan, dan matriks
departemen untuk mengetahui bagian dalam perusahaan yang terkait Dari matriks
departemen diketahui bahwa bagian perusahaan yang paling berpengaruh terhadap
pelaksanaan inisiatif perbaikan adalah bagian Produksi, kemudian bagian
Pemasaran dan Pengadaan. Setelah itu, dibuat matriks action plan yang berisi
action plan tiap inisiatif dan bagian/statf yang terkait dalam pelaksanaannya.