Abstract :
Jumlah anak jalanan yang terus meningkat sejalan dengan meningkatnya fenomena sosial yang
meningkat pula. Seperti yang tercantum dalam beberapa media massa tentang kecenderungan yang
mencerminkan penurunan moral sebagian anak jalanan. Selain itu anak jalanan juga "erat'' dengan
tindakan kriminalitas dan seks bebas. Keluarga adalah lingkungan yang diduga mempunyai peranan
penting bagi perkembangan pertimbangan moral. Namun dengan meluasnya pergaulan anak dengan
teman, maka anak mulai belajar standar dan nilai-nilai jalanan. Maka penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pertimbangan moral pada anak jalanan ditinjau dari pola komunikasi interpersonal dalam
keluarga dan konformitas kelompok.
Responden penelitian ada 11 orang yang berusia 10-18 tahun. Teknik pengambilan responden
dengan available sampling. Proses pengambilan data dilakukan dengan observasi dan interview sesuai
dengan panduan yang telah dibuat sebelumnya. Sedangkan untuk mendapatkan data tentang
pertimbangan moral digunakan dilema moral Kohlberg. Hasil wawancara akan dianalisis secara kualitatif
dan pertimbangan moral akan dianalisa dengan menggunakan coding scheme.
Pertimbangan moral anak jalanan berada pada tahap pra-konvensional. Anak peka terhadap
penilaian baik-buruk atau benar-salah, tetapi mengartikannya dari sudut akibat-akibat fisik dari tindakan
atau dari sudut ada tidaknya kekerasan. Suatu tindakan dianggap benar karena menghindari hukuman
fisik akibat dari tindakannya, kepatuhan merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi. Ditinjau dari usia
responden ( 10-18 tahun) seharusnya anak jalanan sudah mampu mencapai tahap pertimbangan moral
yang lebih tinggi (tahap konvensional). Hal ini disebabkan karena anak jalanan kurang mendapatkan
rangsangan yang bersifat kognitif dalam keluarga maupun kelompok anak jalanan. Walaupun telah
muncul aspek kualitas komunikasi interpersonal dalam keluarga, namun belum dapat diterapkan secara
optimal. Pola komunikasi interpersonal dalam keluarga anak jalanan cenderung lebih terfokus pada halhal
yang berhubungan dengan peningkatan ekonomi sehingga kurang mempunyai kesempatan untuk
mengarahkan dan berdiskusi dengan anak tentang nilai-nilai moral. Mayoritas anak jalanan tergabung
dalam kelompok primer yaitu anggota-anggotanya sering bertemu atau berhadapan muka satu sama
lainnya dan saling mengenal dari dekat, sehingga hubungan yang terjalin lebih erat. Penyebab timbulnya
konformitas pada kelompok anak jalanan adalah normative social influence yaitu konformitas yang
didasarkan pada keinginan indvidu untuk diterima oleh kelompok. Kelompok menghendaki anggotanya
konform sesuai dengan norma yang ditetapkan tanpa memperdulikan anggotanya setuju atau tidak.
Apabila terdapat anggota yang menetang atau tidak setuju, kelompok akan menekan anggota tersebut
sehingga akhirya mau menyesuaikan diri, namun apabila gagal maka akan tersingkir dari kelompoknya.
Sedangkan dasar terbentuknya kelompok anak jalanan atas dasar psikologis yaitu manusia bersifat sosial
dalam arti tidak seorangpun di dunia yang dapat menyendiri terpisah dari orang lain, tetapi saling
berhubungan, berinteraksi dan saling mempengaruhi. Faktor-faktor yang mempengaruhi konformitas
anak jalanan antara lain : kedekatan, kesepakatan, kekompakkan, jenis kelamin, lama tinggal di kawasan
bekerja, dan dorongan afiliasi.