Abstract :
Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, Indonesia dalam kesehariannya
tidak terlepas dari mengkonsumsi makanan. Ada kecenderungan sekarang ini bahwa
terjadi peningkatan minat untuk membeli makanan atau jajan di luar rumah, yang diduga
antara lain karena banyak ibu-ibu yang bekerja, kepadatan lalu lintas yang menyebabkan
banyak orang yang jam makan malamnya dihabiskan di jalan ataupun hanya untuk
sekedar refreshing atau melepas kejenuhan dari aktivitas-aktivitas sehari-hari, sehingga
makan diluar dipandang sebagai cara yang lebih praktis. Keadaan ini membuat banyak
orang yang menjadikan bisnis makanan sebagai suatu kesempatan yang memiliki prospek
cerah. Munculnya kafe-kafe yang bervariasi mulai dari suasana, tatanan tempat, hingga
entertainment, berdampat pada keragaman konsumen. Untuk mengidentifikasi konsumen
kafe di Surabaya secara umum dan mengidentifikasi konsumen kafe 1 ,2,3,4,5, dan 6
secara khusus, maka salah satu cara untuk dapat mengidentifikasi konsumen kafe adalah
dengan menggunakan segmentasi psikografi yaitu segmentasi gaya hidup. Segmentasi
gaya hidup ini digunakan karena dipercaya dapat merefleksikan cara seseorang untuk
membeli dan mempergunakan barang atau jasa. Jadi penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui gaya hidup konsumen kafe di surabaya.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsumen kafe 1 ,2,3,4,5 dan 6
yang datang >2 kali dalam satu bulan dan berusia >20 tahun. Sampel sejumlah 300 orang
yang masing-masing kafe berjumlah 50 sampel, diambil dengan teknik incidental
sampling, dimana peneliti mengambil sampel dari konsumen kafe 1,2,3,4,5,6 yang
ditemui peneliti. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang diadaptasi langsung dari
kuesioner V ALS? (V ALS 2). Data yang didapat dimasukkan ke dalam website
www.sric-bi.com lalu hasilnya dimasukkan ke dalam tabulasi silang.
Hasil dari penelitian ini adalah terdapat variabel-variabel yang sama dan terdapat
pula variabel-variabel yang tidak sama antara kafe satu dengan yang lain. Variabel yang
sama yaitu gaya hidup, pendidikan, pendapatan rumah tangga, intensitas ke kafe, partner
ke kafe, pekerjaan dan status penikahan. Sedangkan variabel yang tidak sama yaitu usia,
jenis kelamin, biaya ke kafe dan pengeluaran rumah tangga. Gaya hidup yang mayoritas
pada konsumen kafe di Surabaya adalah gaya hidup strivers.
Dengan mengetahui hasil penelitian, maka implikasi dari penelitian ini adalah (a)
meningkatkan kekhasan yang dimiliki oleh masing-masing kafe dengan cara
mengembangkan variabel-variabel yang sama pada setiap kafe, (b) menentukan cara yang
tepat untuk mendekati konsumen dengan menyesuaikan meida promosi dan memberikan
fasilitas fasilitas kafe diseduaikan deng karakteristik konsumen katualnya, (c) untuk pihak
manajemen kafe yang akan mendirikan kafe, hendaknya memilih target market yang
berbeda dengan yang sudah ada dan lebih spesifik.