Abstract :
Karyawan perusahaan khususnya manajer, memiliki tingkat stress kerja
yang tinggi. Dalam menjalankan tugasnya manajer harus dapat menyelesaikan
pekerjaannya sesuai dengan target yang diberikan oleh perusahaan dan tuntutan tuntutan
lainnya yang kadang tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Hal
ini membuat manajer merasa tertekan yang akhirnya dapat menimbulkan stress
kerja.
Dalam penelitian ini ada dua kelompok yang ingin dibedakan, yaitu
manajemen puncak dan manajemen menengah. Perbedaan ini berkaitan dengan
tingkat stress kerja yang dimiliki oleh manajemen puncak maupun manajemen
menengah.
Pengambilan sample dilakukan dengan menggunakan teknik insidental
sampling yaitu sampel yang diambil dari siapa saja yang kebetulan ada, yaitu
karyawan yang bekerja pada posisi manajemen puncak sebanyak 10 orang dan
manajemen menengah 20 orang.
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode angket untuk
mengukur tingkat stres kerja, sedangkan data yang diperoleh akan dianalisis
dengan teknik analisis t-test. Hasil analisis yang didapat ada perbedaan tingkat
stress kerja antara manajemen puncak dan manajemen menengah (t=-3,204;
p=0,04) dimana p<0,05, Manajemen menengah memiliki tingkat stres kerja yang
lebih tinggi dibandingkan dengan manajemen puncak. Maka dapat disarankan
bagi perusahaan untuk lebih mengoptimalkan bagaimana memanajemen stres bagi
manajemen puncak dan khususnya manajemen menengah sehingga didapat
hubungan yang harmonis dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.