Abstract :
Pada abad yang modern ini, keberadaan suatu pasar swalayan sudah tidak
asing lagi bagi masyarakat Indonesia, bahkan dikota-kota kecil sekalipun. Sebelum
muncul industri jasa pelayanan pasar swalayan seperti sekarang ini, pasar tradisional
mendominasi pemenuhan kebutuhan masyarakat akan kebutuhan pokok dan skunder
lainnya. Pemunculan pasar swalayan untuk yang pertama kalinya membuat
masyarakat kaget sekaligus bebas memilih dan mengambil barang yang
dibutuhkannya tanpa sentuhan hubungan manusiawi. Seperti yang terjadi di pasar
tradisional, keadaan pasar tradisional dan pasar swalayan yang jauh berbeda.
Biasanya kebanyakan pasar swalayan ada fasilitas AC dalam ruangannya dan barang
yang dijual juga lebih mahal dari pasar tradisional. Hal ini akhirnya menyebabkan
pasar swalayan ramai dikunjungi oleh konsumen, terutama yang berasal dari status
sosial ekonomi menengah keatas. Dalam kenyataannya, pasar swalayan biasanya
ramai dikunjungi (populer) hanya ada beberapa saja. Hal ini dipengaruhi juga oleh
faktor-faktor lain seperti : tata letak pada suatu toko, tempat parkir, promosi yang
dilakukan oleh swalayan tersebut. Rencana tata letak pada suatu toko eceran (retailer)
seperti swalayan merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan agar suatu pasar
swalayan menjadi populer dan ramai. Faktor yang tidak kalah penting dalam
mewujudkan agar pasar swalayan dapat menjadi poluler dan ramai adalah kualitas
layanan yang diberikan oleh pramuniaga swalayan. Peneliti ingin mengungkap
apakah ada hubungan kualitas layanan dan tata letak barang terhadap niat beli
konsumen.
Subyek dalam penelitian ini adalah konsumen Candi Swalayan
Tulungagung, sebanyak 60 orang. Metode pengumpulan data menggunakan angket.
Sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisa statistik regresi linier
berganda.
Dari hasil uji regresi diperoleh nilai F = 90,387 p < 0,05. Dari hasil tersebut
dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara kualitas layanan dan tata letak barang
dengan niat beli. Hal ini berarti menunjukkan adanya keterkaitan antara variabel
kualitas layanan dan tata letak barang terhadap niat beli konsumen. Karena nilai
sumbangan yang diberikan kualitas layanan dan tata letak barang terhadap niat beli
konsumen yaitu sebesar 76,0% dan nilai ini relatif cukup besar, karena memiliki lebih
dari 75,0% dari angka keseluruhan. Jadi tinggi rendahnya niat beli konsumen
dipengaruhi oleh kualitas layanan dan tata letak barang. Penelitian
merekomendasikan pentingnya rencana tata letak barang dan mutu kualitas layanan
untuk meningkatkan niat beli konsumen.