Abstract :
Manusia sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki
kelebihan diantara makhluk lainnya yaitu memiliki akal. Karenanya setiap manusia dapat
memperoleh semua kebutuhan yang diinginkan. Pemenuhan kebutuhan tersebut dapat
diperoleh dengan bekerja sehingga kita memperoleh uang. Pekerjaan yang dilakukan oleh
seseorang membutuhkan energi yang tidak sedikit. Maka dari itu setiap orang
membutuhkan tidur yang baik dan teratur sehingga dapat memulihkan energi yang hilang.
Perbedaan yang ada pada setiap manusia terutama pada negative affectivity dan usia akan
memberikan dampak yang berbeda pula pada tidur terutama kualitas tidur ketika seorang
pekerja bekerja dengan jadwal rotating shift. Hal inilah yang terjadi pada pekerja rotating
shift di PPB WIKA BETON.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara
negative affectivity dan usia dengan kualitas tidur pada pekerja rotating shift.
Subjek penelitian ini adalah 54 orang pekerja rotating shift di bagian produksi.
Data usia diperoleh dari pengisian kolom identitas sedangkan data negative affoctivity
melalui angket terjemahan dari PANAS-X (Positive and Negative Affect Schedule) dan
kualitas tidur diperoleh melalui angket terjemahan PSQI (Pittsburgh Sleep Quality
Index). Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik accidental
sampling. Untuk pengujiannya menggunakan teknik analisis regresi ganda.
Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut: ada hubungan yang sangat
signifikan antara negative affectivity dan usia dengan kualitas tidur pada pekerja rotating
shift dengan nilai F = 55,796 dan p < 0,01. Berarti ada korelasi negatif antara negative
affectivity dan usia dengan kualitas tidur, jadi makin tinggi tingkat negative affectivity
dan makin bertambah usia maka kualitas tidur akan makin buruk. Sumbangan efektif
yang diberikan variabel prediktor terhadap kriterium sebesar 68,6 o/o. Hasil penelitian ini
juga menemukan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara negative affectivity
dengan kualitas tidur dengan nilai r1y-2 = -0,625 dan p < 0,01. Berarti ada korelasi negatif
antara negative affectivity dengan kualitas tidur, jadi makin tinggi tingkat negative
affectivity maka kualitas tidur akan makin buruk. Penelitian ini juga menemukan bahwa
ada hubungan yang sangat signifikan antara usia dengan kualitas tidur dengan nilai r2y-I =
-0,534 dan p < 0,01. Berarti ada korelasi negatif antara usia dengan kualitas tidur, jadi
makin bertambah usia maka kualitas tidur akan makin buruk
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa makin tinggi tingkat negative
affectivity dan makin bertambah usia maka kualitas tidur akan makin buruk, begitu pula
sebaliknya makin rendah tingkat negative affectivity dan makin muda usia maka kualitas
tidur akan makin baik. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar perusahaan dapat
menyeleksi pekerja rotating shift agar mencegah terjadi suatu kondisi yang buruk pada
kualitas kehidupan yaitu kualitas tidur. Bagi penelitian selanjutnya disarankan untuk
melihat variabel-variabel lain seperti pembedaan pekerja shift dengan non-shift dilihat
dari masa kerja, interaksi kehidupan sosial dan kerja dikaitkan dengan kualitas tidur serta
perlunya informasi tentang kualitas tidur dengan menggunakan EEG
(Electroencephalograph).