Abstract :
Dalam dunia bisnis, kepuasan pelanggan adalah konsep bisnis yang
fundamental dan sederhana, akan tetapi implementasinya sangat kompleks.
Kepuasan pelanggan bergantung pada harapan dan persepsi konsumen itu sendiri.
Kepuasan konsumen berkaitan erat dengan performance gap. Performance gap
merupakan hasil selisih antara harapan dengan persepsi konsumen. Ada dua
macam performance gap yaitu, performance gap positif yang berarti ada kepuasan
konsumen dan performance gap negatif yang berarti tidak ada kepuasan
konsumen.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana performance gap
antar merek rokok, pada perokok jenis "Low tar low nikotin ". Populasi dalam
penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Surabaya, yang aktif pada semester
genap 2002/2003, yang menghisap rokok jenis "Low tar low nikotin".
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tehnik "Quota
Sampling", dengan jumlah subyek sebanyak 100 orang. Metode pengumpulan
data menggunakan metode angket dan tehnik analisis data menggunakan tehnik
MDS (Multidimensional Scaling) dan analis faktor.
Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah, pada driver kualitas
produk, merek A-Mild merupakan merek rokok yang memiliki performance gap
positif paling banyak, yang berarti bahwa ada kepuasan konsumen pada merek
tersebut. Untuk driver harga, tidak ada merek rokok yang memiliki performance
gap positif, yang berarti tidak ada kepuasan konsumen pada semua merek untuk
driver harga. Untuk driver emotional factor, merek A-Mild dan LA-Light
merupakan rokok yang memiliki performance gap positif paling banyak, yang
berarti bahwa ada kepuasan konsumen pada kedua merek tersebut. Namun, dari
perceptual map (MDS), ditemukan bahwa merek LA-Light merupakan merek
yang dianggap memiliki mind set yang negatif. Dengan demikian merek LA-Light
merupakan merek rokok yang belum dapat mewujudkan kepuasan konsumen.
Untuk driver kemudahan didapat, merek A-Mild merupakan merek rokok yang
memiliki performance gap positif paling banyak, yang berarti bahwa ada
kepuasan konsumen pada merek tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan untuk pihak perusahan
rokok (khususnya bagi merek rokok yang memiliki performance gap negatif) agar
dapat memperbaiki dan meningkatkan serta memperjelas kualitas produk, harga,
emotional factor (iklan,motto dan slogan) dan kemudahan didapat. Selain itu,
untuk penelitian selajutnya agar dapat dilakukan di beberapa universitas dengan
jumlah sampel yang lebih banyak.