Abstract :
Adanya persaingan yang ketat antar perusahaan-perusahaan asuransi untuk
mendapatkan konsumen baru, menjadi dasar pertimbangan perlunya perusahaan
mempertahankan konsumen lama atau yang telah dimiliki. Jika perusahaan dapat
memuaskan konsumen lama maka secara tidak langsung akan memunculkan prospek
untuk konsumen baru. Disebabkan adanya referensi atau informasi konsumen lama
kepada konsumen baru tentang kebaikan perusahaan tersebut (Hoffman dan Bateson,
1997, h. 272). Kepuasan atau ketidakpuasan konsumen akan suatu jasa sebagai akhir
dari suatu proses penjualan memberikan dampak tersendiri kepada perilaku konsumen
akan jasa tersebut. Bagaimana perilaku konsumen dalam melakukan pembelian
kembali, bagaimana konsumen dalam mengekspresikan jasa yang dipakainya dan jasa
yang diperolehnya, dan perilaku lain yang menggambarkan reaksi konsumen atas jasa
yang telah dirasakan (perilaku purna pembelian). Salah satu cara untuk
meminimalkan jumlah konsumen yang tidak puas adalah dengan mempertahankan
kualitas layanan yang baik atau bahkan meningkatkan kualitas layanan yang telah
ada.
Partisipan dari penelitian ini adalah konsumen dari PT. Sewu New York Life
yang menggunakan polis asuransi jiwa dalam bentuk endowment. Teknik
pengumpulan data menggunakan metode angket. Perilaku purna pembelian diungkap
dengan angket yang disusun oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry, yang telah
distandardisasikan oleh peneliti sesuai dengan situasi perusahaan. Kualitas layanan
diungkap dengan angket yang disusun oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry
(Zeithaml, Parasuraman, dan Berry, 1990, h.181-186). Data yang telah diperoleh akan
dianalisis dengan menggunakan metode Product moment dan Korelasi Parsial.
Hasil uji hipotesis mayor menunjukkan bahwa ada korelasi yang signifikan
antara variabel kualitas layanan dan perilaku purna pembelian. (r = 0.232 dan p =
0.038). Sumbangan efektif yang diberikan oleh kualitas layanan terhadap perilaku
purna pembelian adalah sebesar 5.3824%, sisanya 94.6176% adalah variabel selain
kualitas layanan. Hasil uji hipotesis minor antara variabel tangible, reliability,
responsiveness, assurance, empathy dengan perilaku purna pembelian dengan
menggunakan korelasi parsial menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara masing-masing
variabel itu dengan perilaku purna pembelian. Hal ini terjadi karena pada
perusahaan ini, ternyata dalam menilai satu dimensi pada kualitas layanan, konsumen
juga melihat keempat dimensi lainnya untuk menilai dimensi tersebut. Jadi untuk
menilai kualitas layanan yang ada digunakan keseluruhan dimensi dari kualitas
layanan untuk dapat mengatakan kualitas layanan tersebut baik atau buruk.
Saran-saran bagi penelitian berikutnya: menggabungkan angket harapan
dengan angket persepsi menjadi satu angket sehingga yang teruji adalah benar-benar
validitas dan reliabilitas kualitas layanan, bukannya validitas dan reliabilitas
harapan, dan validitas dan reliabilitas persepsi, menambahkan variabel lain sebagai
variabel bebas selain kualitas layanan, memperbanyak item-item pada angket perilaku
purna pembelian sehingga hasilnya lebih mendalam, melengkapi data dengan
melakukan interview secara langsung pada konsumen.