Abstract :
Kondisi geografis wilayah Indonesia yang hampir sebagian besar adalah wilayah
perairan menuntut suatu sistem pertahanan keamanan di laut yang tangguh. TNI AL
sebagai tulang punggung kekuatan pertahanan keamanan bangsa Indonesia di wilayah
perairan menuntut anggotanya baik di KRI (Kapal Perang Republik Indonesia) maupun
di Pendirat (Pendirian Darat) memiliki dedikasi dan tanggung jawab yang besar
terhadap pekerjaannya. Masing-masing tempat tugas ini memiliki stressor sendiri-sendiri,
kalau di KRI stressor terbesar muncul pada saat anggota TNI AL melakukan
tugasnya di laut. Di Pendirat perasaan jenuh terhadap pekerjaan yang bersifat
administratif menimbulkan stres kerja bagi anggotanya. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui apakah ada perbedaan stres kerja antara anggota TNI AL yang bertugas di
KRI dan anggota TNI AL yang bertugas di Pendirat.
Penelitian ini menggunakan quota sampling dengan subjek anggota TNI AL
berpangkat Bintara atau Tamtama, sebanyak 40 orang dari KRI dan 40 orang dari
Pendirat. Untuk mengungkap adanya stres kerja digunakan angket dengan skala Likert.
Teknik analisis yang digunakan adalah t-test.
Dari hasil analisis data diperoleh hasil t = -1 ,566; p (0, 117) >0,05, artinya tidak
ada perbedaan stres kerja yang signifikan antara anggota TNI AL yang bertugas di KRI
dan anggota yang bertugas di Pendirat. Beberapa faktor yang memungkinkan
munculnya hal ini antara lain karena telah terbentuk penyesuaian diri pada anggota yang
bertugas di KRI karena kondisi yang telah disosialisasikan sebelum mereka diterjunkan
di KRI. Sebanyak 32,5%) anggota di KRI baru bertugas selama 2 tahun, doktrin dalam
Pendidikan Dasar Militer masih sangat melekat dalam benak mereka sehingga
menciptakan komitmen yang tinggi terhadap tanggung jawab dan tugas. Berdasarkan
faktor usia dan status pernikahan, pada anggota KRI diketahui sebesar 30% berusia 25
tahun dan 75% belum menikah. Mereka yang masih muda dan belum berkeluarga
semangat kerjanya masih tinggi dan konsentrasi terhadap pekerjaan masih penuh karena
tidak terpecah dengan masalah rumah tangga atau masalah lainnya.
Untuk mengantisipasi munculnya sumber stres dalam lingkungan kerja
disarankan untuk memberikan perhatian terhadap pola penugasan dengan melakukan
rotasi kerja bagi anggota baik di KRI maupun di Pendirat, menetapkan kebijakan dan
· pola kepemimpinan yang mampu mengembangkan pola pikir yang positif terhadap
kondisi di lingkungan kerja.