Abstract :
Semakin ketatnya dunia persaingan bisnis, maka setiap perusahaan perlu
mengembangkan sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Salah satu sasaran
dalam mengembangkan sumber daya manusia adalah dengan pembinaan dan
pemeliharaan semangat kerja yang mempunyai dampak atau pengaruh yang cukup
berarti dan komplek baik bagi karyawan maupun bagi perusahaan. Semangat kerja
yang tinggi yang ada pada diri karyawan saja pada saat ini belum cukup tanpa
diimbangi dengan kemampuan karyawan untuk menghadapi masalah yang ada
serta kemampuan menyelesaikan masalah. Kemampuan karyawan dalam
mengatasi kesulitan serta tidak mudah putus asa di bahas di dalam Adversity
Quotient atau dalam perkembangannya disebut dengan Mengatasi Kesulitan.
Analisis data dilakukan secara non parametrik, karena tidak meneliti
populasi sampel dengan teknik pengambilan sample "Purposive sampling' yaitu
sample yang diambil berdasarkan lama kerja minimal 2 tahun, dengan usia antara
25 - 35 tahun dari populasi yang tersedia pada saat penelitian, dengan sampel
sebanyak 60 orang dari jumlah populasi 75 orang pada karyawan staf PT
Wilken Mitra Perkasa .
Pengambilan data dilakukan dengan angket yang akan mengukur
hubungan antara Adversity Quotient dengan Semangat kerja, sedangkan data yang
diperoleh akan dianalisis dengan teknik analisis Spearman . Hasil analisis
didapatkan : r = 0, 737, p·, < 0,05, yang artinya ada hubungan yang signifikan
antara Adversity Quotient dengan semangat kerja karyawan staf PT.Wilken Mitra
Perkasa. Hasil tersebut menunjukkan · bahwa · makin tinggi semangat kerja ·
seseorang maka makin tinggi pula Adversity Quotient-nya, yang kemudian dibagi
menjadi tiga tipe pendaki (Quitters, Campers, Climbers). Dari hasil penelitian
diketahui karyawan paling banyak masuk dalam kelompok Quitters dengan
semangat kerja yang cukup tinggi pula (45,690/o). Hal ini membuktikan bahwa
seseorang yang tergolong . dalam kelompok Quitters belum tentu mempunyai
semangat kerja yang rendah. Perlu adanya kesadaran bagi karyawan untuk
memperbaiki dan meningkatkan Adversity Quotient-nya sehingga ada
kemungkinan masuk dalam kelompok Climbers. Adversity Quotient bukan faktor
dari lahir, maka dapat diperbaiki dengan mengubah cara berfikir secara optimal
dengan menyadari kelebihan dan kekurangan pada diri sendiri.