Abstract :
Harga diri dianggap sangat penting karena merupakan suatu penilaian
terhadap dirinya sendiri yang dianggap relatif tetap. Proses pembentukan harga
diri dimulai sejak bayi baru lahir melalui interaksi dengan lingkungan keluarga
yang paling utama. Selain lingkungan keluarga ada faktor-faktor lain yang
mempengaruhi yaitu lingkungan masyarakat.
Masyarakat akan memberikan pandangan yang positif dan negatif
terhadap setiap individu. Bagi penderita epilepsi, masyarakat masih beranggapan
penyakit epilepsi adalah penyakit memalukan, menular, kerasukan setan,
keturunan sehingga masyarakat memberikan suatu stigma kepada penderita
epilepsi.
Penderita epilepsi yang memiliki harga diri yang tinggi akan
mempersepsikan stigma sosial tersebut secara negatif artinya subjek akan
mengabaikan pandangan masyarakat yang negatif terhadap dirinya, sebaliknya
penderita epilepsi yang memiliki harga diri rendah akan mempersepsikan stigma
sosial tersebut secara positif atau diterima.
Subjek penelitian ( N=26) adalah pasien epilepsi grandmal yang terdaftar
di poliklinik RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, yang berusia antara 18-30 tahun,
yang berpendidikan minitnal SLTP, tidak cacat fisik dan belum menikah.
Data penelitian ini diperoleh melalui angket terbuka dan angket tertutup
untuk mengungkapkan variabel harga diri dan persepsi terhadap stigma sosial.
Dari analisis data yang menggunakan statistik non-parametrik dengan
teknik Korelasi spearman, diperoleh hasil rs =- 0,599 dan p < 0,0 l. Hasil tersebut
juga memperlihatkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara persepsi
terhadap stigma sosial dengan harga diri. Semakin tinggi harga diri individu,
semakin negatif persepsi individu terhadap stigma sosial dan sebaliknya semakin
rendah harga diri individu_, maka semakin positif persepsi individu terhadap
stigma sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga diri penderita
epilepsi tergolong tinggi (50%) dan sebanyak 38,96% menunjukkan bahwa
persepsi terhadap stigma sosial termasuk rendah. Sumbangan efektif persepsi
terhadap stigma sosial dengan harga diri sebesar 35,88%.
Usaha psikososial yang diberikan pada penderita epilepsi adalah
pendekatan terapi kognitif dengan teknik kolom tiga dan bertujuan untuk
meningkatkan harga diri penderita.
Saran bagi penelitian selanjutnya menggunakan interview untuk
membahas harga diri lebih mendalam, mengingat angket memiliki banyak
kelemahan.