Abstract :
Remaja memiliki minat yang tinggi untuk bersosialisasi dan menjalin
hubungan interpersonal dengan orang lain. Agar dapat menjalin hubungan yang
produktif, remaja dituntut untuk dapat menjadi individu yang percaya diri. Rasa
percaya diri sangat diperlukan dalam menjalin hubungan interpersonal. Sayangnya,
tidak semua orang memiliki rasa percaya diri yang cukup. Individu yang kurang
memiliki rasa percaya diri, biasanya merasa tidak nyaman saat bergaul dengan
orang lain karena merasa cemas akan penilaian orang lain terhadapnya. Untuk
mengkompensasi hal tersebut, individu mencoba untuk bergaul dengan orang lain
dengan media yang berbeda, yaitu media chatting. Individu yang merasa nyaman
bergaul di komunitas chatting biasanya akan mengulang perilakunya terus, hingga
dapat menimbulkan suatu 'kecanduan'.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan apakah ada hubungan
antara rasa percaya diri seseorang dengan kecenderungan kecanduan chatting.
Subyek penelitian ini adalah para pengguna chatting yang berusia 14-17
tahun dan menggunakan chatting selama minimal 6 jam. Jumlah subyek dalam
penelitian ini adalah 32 orang. Metode pengumpulan data dilakukan dengan
memberikan angket tentang rasa percaya diri dan angket tentang kecenderungan
kecanduan chatting.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki
rasa percaya diri yang cenderung tinggi sehingga mengalami kecenderungan
kecanduan chatting dalam kategori sedang hingga rendah. Hubungan antara rasa
percaya diri dan kecenderungan kecanduan chatting memiliki koefisien korelasi r = -
0.457 dan nilai p = 0.009 {<0.01 ). Dari koefisien korelasi ini diperoleh besarnya
sumbangan efektif {SE) rasa percaya diri terhadap kecenderungan kecanduan
chatting, yaitu sebesar 20.88%. Hal ini berarti masih terdapat faktor lain yang
mempengaruhi kecenderungan kecanduan chatting selain rasa percaya diri