Abstract :
Konstruksi sosial yang ada di masyarakat kita mengajarkan pada perempuan mengenai
makna rahim yang kemudian diasosiasikan dengan seksualitas perempuan yang hal ini begitu
penting sebagai salah satu faktor dalam menumbuhkan kebanggaan dengan rasa percaya diri,
terutama dalam hal penghayatan akan kebernilaian dirinya di mata pasangan. Keyakinan ini telah
lama hidup di tengah-tengah masyarakat kita yang telah membentuk persepsi para subjek
mengenai pemaknaan rahim yang kemudian membentuk keyakinan para subjek tentang
pengaruhnya terhadap kehidupan seksual.
Perempuan hanya sebagai mesin reproduksi saja, dengan asumsi bahwa perempuan yang
telah berkeluarga dituntut untuk bisa hamil, jika hal tersebut tidak akan terjadi pada perempuan
maka perempuan ini dianggap bukan sebagai perempuan yang sempurna. Penelitian ini bertujuan
melihat bagaimana proses internalisasi nilai-nilai budaya tentang keperempuanan, rahim,
aktivitas seksual dan kesehatan reproduksi pada perempuan yang dihisterektomi dan pengaruhnya
terhadap kemampuan perempuan untuk menikmati hubungan seksual. Selain itu, ingin dilihat
pembentukan pengetahuan kesehatan reproduksi perempuan termasuk mitos atau praktik yang
dilakukan perempuan untuk menjaga kesehatan reproduksinya, serta ingin melihat kehidupan
emosi perempuan yang dihisterektomi ketika menghadapi pengobatan dan proses operasi,
perubahan organ reproduksi, aktivitas seksual dan kehidupan seksual.
Penelitian ini melibatkan tiga responden perempuan yang dalam hal ini tidak ada batasan
dalam pemilihan subjek, karena untuk melihat keyakinan perbedaan pola pemikiran dan perasaan
yang muncul sebagai akibat perbedaan status perkawinan dan pengalaman melahirkan. Paradigma
penelitian yang digunakan adalah interpretif dan metode penelitiannya adalah kualitatif-studi
kasus dengan teknik wawancara mendalam.
Metode analisis data yang digunakan adalah analisis induktif yakni yang dimulai dengan
wawancara yang kemudian memunculkan tema-tema, di lembar lain peneliti mendaftar tema yang
muncul tersebut dan mencoba memikirkan hubungan di antara mereka.
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa konstruksi sosial telah membentuk
persepsi perempuan mengenai makna rahim yang kemudian membentuk keyakinan para subjek
tentang pengaruhnya terhadap kehidupan seksual. Selain itu keyakinan tersebut itu dapat
dijadikan sebagai suatu kebanggaan dan rasa percaya diri terhadap pasangan. Penginternalisasian
keyakinan tersebut akhirnya menghasilkan respon-respon subjektif mereka sebagai partner
seksual dalam relasi seksual dengan pasangan. Para subjek yang menginternalisasi nilai-nilai ini
di dalam kehidupannya terhadap rahim yang terlalu dalam dapat menurunkan self -esteem dan rasa
percaya diri perempuan dalam kehidupan seksualnya maupun dalam pergaulan sosial yang
notabene pada hubungan antar lawan jenis. Keadaan inilah yang menyebabkan perempuan tidak
merasakan kepuasan batin dari hubungan seksualnya maupun hubungan sosialnya dan semakin
memperkuat skema bahwa hubungan seks atau menjalin rumah tangga yang harmonis akan dapat
lebih dinikmati jika ditunjang dengan organ reproduksi yang sehat dan sempurna.