Abstract :
Budaya Tionghoa berasal dari ajaran konfusianisme, yang secara turun
temurun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat etnis Cina, mengajarkan
bahwa pria merupakan pencari nafkah utama. Keadaan ini memunculkan masyarakat
patriarkhi, dimana anak laki - laki mengambil marga ayahnya. Dalam masyarakat
etnis Cina, anak laki - laki dipandang mempunyai nilai lebih tinggi daripada anak
perempuan karena sebagai penerus marga. Dalam budaya Tionghoa, nilai menantu
perempuan terbatas pada menghasilkan ahli waris laki - laki bagi keluarga suami.
Dengan asumsi demikian peneliti ingin melihat nilai menantu perempuan pada etnis
Cina di jaman yang sudah modern sekarang ini. Peneliti melibatkan empat orang
subjek penelitian diantaranya dua orang subjek dengan status menikah dan dua orang
subjek dengan status janda. Paradigma penelitian yang digunakan adalah konstruksi
sosial kritis, dengan metode penelitiannya adalah kualitatif deskriptif dengan teknik
wawancara yang mendalam. Metode ini dipilih karena kecenderungan kuantitatif
pada penelitian - penelitian yang relevan hasilnya tidak mampu menjawab
penghayatan individu akan kompleksitas pengalaman hidupnya, membuat peneliti
ingin menggali dinamika dalam proses permasalahan. Teknik analisis data yang
digunakan adalah teknik analisis induktif yaitu dimana peneliti tidak memaksa diri
untuk hanya membatasi penelitian pada upaya menerima dan menolak dugaan -
dugaannya, melainkan mencoba memahami situasi ( make sense of the situation )
sesuai dengan bagaimana persepsi tersebut muncul. Dari penelitian ini diperoleh hasil
bahwa penilaian ibu terhadap calon menantunya tidak sekolot jaman dulu yaitu harus
menghasilkan anak laki - laki, melainkan lebih fleksibel asal dapat memberinya cucu.
karakteristik ibu dari segi usia, status pernikahan, status pendidikan tidak
mempengaruhi harapan ibu terhadap calon menantu perempuan. Dalam budaya
Tionghoa yang diikuti oleh warga keturunan Cina di Indonesia sekarang tidak sekolot
dulu, bahkan sekarang mereka cenderung fleksibel dalam mengikutinya. Dalam
penelitian ini dipero]eh hasil bahwa agama cukup berpengaruh dalam pergeseran
budaya Tionghoa. Harapan pada anak laki - laki yang sangat tinggi mempengaruhi
harapan pada menantu perempuannya juga sangat tinggi.