Abstract :
Seseorang yang dinyatakan menderita DM terkadang mengalami
keterbatasan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Keterbatasan ini diakibatkan
karena kondisi fisik yang mudah lelah. Seseorang yang mengalami keadaan ini
terkadang menjadi tidak siap. Ketidaksiapan menerima perubahan keadaan dari
sehat menjadi sakit membuat seseorang mengalami penolakan-penolakan terhadap
dirinya Keterbatasan dan ketidaksiapan seseorang menerima penyakit D M yang
diderita mengakibatkan kualitas hidup seseorang mengarah pada keadaan yang
tidak sejahtera (ill-being). Setelah dilakukan survey awal terhadap penderita DM
usia dewasa awal, kualitas hidup penderita DM yang sejahtera (well-being)
dipengaruhi oleh adanya dukungan sosial (support system}, kontrol dan
kesempatan untuk mengembangkan diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui kualitas hidup penderita DM tipe I dengan usia dewasa awal.
Subjek penelitian ini adalah tiga orang penderita DM tipe I dengan usia
18-40 tahun. Data yang diperoleh dipaparkan secara deskriptif kualitatif. Metode
pengumpulan data wawancara mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari dua subjek penelitian
menunjukkan kecenderungan kualitas hidup mengarah pada ill-being. Aspek
psikologis mempunyai pengaruh yang besar terhadap aspek-aspek lainnya
sehingga kualitas hidup menjadi well-being. Pada dasarnya faktor yang
berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang adalah usia dan tugas
perkembangan yang terkait dengan kejadian dalam hidup, kontrol, kemampuan
seseorang coping yang terkait dengan keterampilan, adanya significant others
yang terkait dengan support system, pengetahuan dan sifat seseorang yang terkait
dengan sumber daya, stres yang terkait dengan perubahan lingkungan, dan
kesempatan untuk mengembangkan diri. Hasil dari penelitian ini melihat bahwa
kualitas hidup subjek I mengarah pada keadaan yang well-being karena dapat
menerima penyakit yang diderita dan juga adanya dukungan dari significant
others. Kualitas hidup subjek II dan III lebih mengarah pada ill-being karena
menganggap penyakit DM sebagai beban dan kurangnya dukungan dari
significant others.