Abstract :
Masalah perkawinan poligami tengah menjadi isu yang hangat
dibicarakan. Berbagai pandangan dan sikap muncul untuk menanggapi masalah
poligami. Konon tidak ada berita yang lebih buruk bagi wanita kecuali mendengar
dirinya akan dimadu. Poligami disebut sebagai bukti ketidakadilan terhadap
wanita (Aj-Jahrani,2002). Fakta diseputar poligami menunjukkan banyaknya
penderitaan yang timbul, baik yang dialami oleh istri, terutama pada istri pertama.
Ironisnya keadaan tersebut sedikit banyak perempuan sebagai istri pertama lebih
memilih mempertahankan keadaan perkawinan yang dialaminya ( dimadu)
daripada menuntut hak atau bercerai. Hal tersebut ada keterkaitan adanya berbagai
pertimbangan masalah anak, keluarga, budaya, agama, dan tekanan dari
masyarakat. Keadaan tersebut menjadikan sebuah dilema sebagai istri pertama
yang dimadu
Subjek penelitian ini adalah empat orang, istri pertama pada perkawinan
poligami, dengan latar belakang budaya jawa. Metode pengumpulan data
menggunakan wawancara secara mendalam.Teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan studi kasus. Metode
analisis data mengacu pada analisis tematik, yang dimulai dengan wawancara
kemudian memunculkan tema-tema, kategori-kategori dan pola hubungan di
antara kategori-kategori tersebut.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui proses resistensi perempuan
sebagai istri pertama terhadap poligami. Subjek penelitian ini adalah istri pertama
dari perkawinan poligami. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, bahwa ada
beberapa faktor penyebab yang menjadikan seseorang menjadi resisten antara lain
penerimaan diri, dukungan sosial, budaya dan mitos, kualitas hubungan suami
istri dan keadilan. Maka saran yang dapat diberikan pada pelaku poligami
hendaknya memperhatikan faktor keadilan dan pemenuhan kebutuhan istri. Bagi
istri pertama saran yang dapat diberikan adalah yakin terhadap kemampuan diri
dan tidak dependent dengan pihak luar, seperti survive dalam hal ekonomi.