Abstract :
Teknologi dan ekonomi yang semakin berkembang dewasa ini menuntut
badan usaha untuk bersaing dengan lebih ketat dengan segala macam
permasalahannya yang menyebabkan badan usaha harus cepat tanggap dan tepat
dalam menyelesaikan masalah. Oleh sebab itu diperlukan pendelegasian
wewenang dari manajer puncak kepada suatu divisi yang dipimpin oleh seorang
manajer yang berfungsi sebagai responsibility centers supaya penyelesaian
masalah dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat sasaran. Dengan adanya
pendelegasian wewenang ini diharapkan nantinya manajer divisi ini akan
menggunakan wewenangnya untuk memaksimalkan laba divisi yang dipimpinnya
dan memaksimalkan laba badan usaha secara keseluruhan sehingga goal
congruence dapat tercapai.
Sebagai akibat didelegasikannya wewenang kepada manajer divisi,
manajer puncak memerlukan suatu kontrol untuk memastikan bahwa manajer
divisi telah menggunakan wewenangnya dengan baik untuk mencapai tujuan
divisi secara maksimal. Oleh karena itu diadakan suatu penilaian kinerja yang
mencerminkan kinerja manajer divisi secara tepat dan adil.
Dengan adanya penetapan responsibility centers ini menyebabkan tiap
manajer divisi mendapatkan wewenang tertentu sehingga memungkinkan
terjadinya konflik antar manajer divisi. Dalam badan usaha yang terjadi transaksi
antar divisi, harga transfer merupakan salah satu pemicu terjadinya konflik antar
divisi. Oleh sebab itu metode penentuan harga transfer ini harus dipilih yang tepat
dan disesuaikan dengan kondisi badan usaha serta bentuk responsibility centers
yang dilimpahkan kepada manajer divisi.
PT."X" mempunyai dua divisi, yaitu divisi pengolahan kayu dan divisi
pembuatan gagang sapu yang ditetapkan sebagai profit centers. Namun pada
praktiknya pendelegasian wewenang ini tidak sepenuhnya dilaksanakan. Terbukti
dengan adanya campur tangan manajer puncak dalam menentukan besarnya harga
transfer, yaitu sebesar full cost. Bagi divisi pembuatan gagang sapu yang
bertindak sebagai divisi pembeli, transaksi ini sangat menguntungkan karena
mendapat bahan baku murah dan berkualitas tetapi bagi divisi pengolahan kayu
yang merupakan divisi penjual, transaksi ini tidak adil karena divisi ini diharuskan
menjual produknya dengan tidak mengambil laba padahal sebagai profit centers,
manajer divisi ini akan dinilai kinerjanya dalam mengelola pendapatan dan laba.
Oleh sebab itu diperlukan metode yang dapat memberikan keadilan bagi kedua
manajer divisi sehingga tidak ada divisi yang merasa dirugikan.
Metode penetapan harga transfer yang paling tepat untuk PT. "X" adalah
market based transfer price karena produk yang ditransfer mempunyai harga
pasar sehingga harga pasar merupakan harga independent yang dapat dijadikan
sebagai patokan dalam menentukan harga. Dengan mengunakan metode ini tidak
ada divisi yang merasa dirugikan karena divisi pengolahan kayu dapat menjual
produk dengan mendapatkan laba dan divisi pembuatan gagang sapu mendapatkan
bahan baku berkualitas bagus dengan harga yang bersaing. Dengan begitu dapat
dinilai kinerja manajer divisi dengan akurat sehingga manajer divisi merasa puas
yang berakibat konflik tidak terjadi yang berarti goal congruence akan tercapai.