Abstract :
Perkembangan usaha yang semakin pesat dan kompetitif menyebabkan badan usaha harus
mampu mengembangkan keunggulan bersaing dengan cara menghasilkan produk yang berkualitas
tinggi dengan harga bersaing dan tepat waktu pada saat konsumen membutuhkannya. Kondisi ini
membuat badan usaha harus terus-menerus melakukan usaha perbaikan di dalam proses
produksinya agar proses produksi dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Untuk mencapai efisiensi biaya produk tanpa harus mengurangi kualitas produk badan
usaha harus mencari penyebab timbulnya biaya tersebut, mengatur, dan mengendalikannya. Pada
umumnya yang menjadi penyebab timbulnya biaya adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan
dalam proses produksi. Aktivitas ini dikenal sebagai pemicu biaya. Oleh sebab itu, aktivitas-aktivitas
yang terjadi perlu dikendalikan melalui penerapan activity based management.
ABM merupakan sistem yang menyeluruh dan memfokuskan perhatian manajemen pada
aktivitas dengan tujuan untuk meningkatkan nilai yang diperoleh konsumen dan profitabilitas
badan usaha. ABM terdiri dari dua dimensi yaitu process dimension dan cost dimension.
Process dimension memberikan informasi tentang aktivitas produksi badan usaha
Dimensi inilah yang memberikan kemampuan untuk melakukan dan mengukur perbaikan
berkelanjutan. Sehingga badan usaha dapat mengetahui aktivitas yang bernilai tambah dan
aktivitas yang tidak bernilai tambah.
Cost dimension memberikan informasi biaya sumber daya, biaya aktivitas, dan biaya
produk. Dimensi ini memberikan solusi perhitungan biaya yang lebih akurat dengan menggunakan
metode ABC ABC dapat mengatasi kelemahan yang terdapat pada traditional costing system.
Sistem ABC mencegah terjadinya over costing dan under costing dalam perhitungan biaya produk
agar manajemen tidak salah dalam membuat keputusan.
Hasil analisis terhadap PT "X" di Gempol menunjukkan bahwa tidak semua aktivitas
yang dilakukan oleh PT "X" bernilai tambah bagi badan usaha dan konsumen tetapi ada beberapa
aktivitas yang tidak bernilai tambah yaitu sebesar 9,19% dari total biaya aktivitas. Oleh karena itu,
PT "X" perlu melakukan pengendalian, pengelolaan aktivitas, dan pengeliminasian non valueadded
activity untuk mencapai cost reduction.
Selain itu, perhitungan biaya berdasarkan sistem tradisional yang dilakukan oleh PT "X"
menyebabkan terjadinya over costing untuk celana pendek jeans dan under costing untuk celana
panjang jeans. Untuk itu, agar pembebanan biaya produk lebih akurat PT "X" perlu melakukan
perhitungan biaya berdasarkan ABC yang menelusuri biaya aktivitas ke tiap-tiap aktivitas,
kemudian membebankan biaya aktivitas ke masing-masing produk.