Abstract :
Banyaknya kasus pemogokan kerja di Indonesia saat ini mempengaruhi
dunia usaha di Indonesia secara umum. Dengan adanya pemogokan kerja maka
kegiatan produksi badan usaha bisa dikatakan berhenti hal ini dikarenakan lini
pekerjaan masih didominasi oleh tenaga manusia. Sejumlah kasus besar
pemogokan kerja menghadirkan isu mengenai perhitungan gaji dan waktu
pembayaran serta permintaan atas tunjangan lainnya.
Badan usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja yang cukup besar harus
bisa mengelola kegiatan ketenaga kerjaan apabila tidak ingin menghadapi
kegiatan yang dapat merugikan perusahaan. Di satu sisi bagi perusahaan ingin
memaksimalkan keuntungan dengan menekan biaya gaji serendah mungkin
dengan mendapatkan kinerja yang maksimal, di pihak lain bahwa tenaga kerja
menuntut untuk mendapatkan gaji sebesar mungkin dengan tingkat kerja yang
serendah mungkin. Oleh karena itu, bagi kedua pihak yang memiliki tujuan yang
berbeda diperlukan suatu pengolahan sistem penggajian yang baik dimana di satu
sisi dapat memberikan kinerja maksimal dari karyawan dan di pihak lain
menyediakan transparansi yang baik.
Dengan jumlah tenaga kerja yang cukup besar maka sudah tidak
memungkinkan lagi untuk melakukan pengolahan sistem penggajian secara
manual. Diperlukan suatu teknologi informasi yang dapat mengelola serta
memberikan informasi bagi kedua belah pihak yang bermanfaat.
Bagi perusahaan dengan adanya suatu sistem informasi penggajian yang
baik akan dapat meningkatkan internal control dari badan usaha itu sendiri.
Penggunaan sistem informasi penggajian dengan teknologi barcode akan
memberikan dalam memasukan data, serta biaya investasi teknologi informasi
yang tidak sebesar apabila menerapkan dengan media lainnya. Sehingga pada
akhirnya dengan menggunakan sistem informasi penggajian dengan media
barcode ini dapat membantu perusahaan dalam mengelola sistem penggajiannya
agar dapat meningkatkan internal control serta memberikan informasi yang dapat
digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.