Abstract :
Dewasa ini, kinerja dan kelangsungan hidup badan usaha banyak
dinilai dari informasi finansial berupa kontribusi laba secara akrual yang
disajikan dalam laporan keuangan, yaitu laporan laba-rugi (income
statement). Earnings management atau manajemen laba merupakan suatu
fenomena baru yang telah menambah wacana perkembangan teori
akuntansi. Istilah manajemen laba muncul sebagai konsekuensi langsung
dari upaya-upaya pembuat laporan keuangan untuk melakukan manajemen
informasi akuntansi, khususnya laba (earnings), demi kepentingan pribadi
dan/atau perusahaan.
Aspek penting dari earnings management adalah bahwa manajemen
berusaha untuk melaporkan laba (earnings) sesuai dengan yang diinginkan
manajemen berdasarkan motivasi tertentu. Salah satu motif untuk
melakukan earnings management adalah pada saat pergantian CEO. Motif
untuk melakukan earnings management ini dapat dimiliki baik oleh CEO
lama maupun CEO baru yang akan menjabat. Bagi CEO lama, earnings
management mungkin saja dilakukan untuk menunjukkan kinerja yang
memuaskan sehingga ia dipilih kembali untuk menjabat pada periode
berikutnya atau untuk menunjukkan kinerja yang baik sehingga mendapat
penghargaan atau insentif lainnya bagi CEO yang akan pensiun. Sedangkan
bagi CEO baru, earnings management mungkin dilakukan untuk
menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan CEO lama sehingga
kompensasinya di masa depan juga akan meningkat atau dapat dikatakan
adanya insentif bagi CEO baru untuk memaksimalkan kesejahteraannya.
Big bath adalah salah satu pola earnings management yang biasanya
dilakukan oleh CEO baru, umumnya dilakukan pada satu atau beberapa
tahun setelah menjabat, yaitu secara ekstrim mengalihkan expected future
cost ke masa kini dengan konsekuensi laba di masa kini menjadi rendah,
tetapi CEO baru akan memiliki peluang lebih besar mendapatkan laba di
masa yang akan datang sehingga kompensasinya di masa yang akan datang
juga dapat meningkat. Bagi CEO sendiri, cara untuk melakukan earnings
management adalah melalui discretionary variables yaitu variabel yang
mudah dikontrol oleh pihak manajemen. Dalam penelitian ini, penulis akan
mengidentifikasi adanya earnings management pada pergantian CEO
melalui analsis empat discretionary variables, yaitu : R&D expense,
advertising and promotion expense, capital expenditure, dan total accruals.
Masing-masing variabel ini akan dianalisis dengan jumlah sampel yang
berbeda-beda karena keterbatasan data masing-masing variabel tersebut.
Hipotesis yang dirumuskan penulis dalam penelitian ini adalah
adanya peningkatan R&D expense, advertising and promotion expense, dan
capital expenditure serta adanya penurunan total accruals secara signifikan
pada satu atau dua tahun setelah pergantian CEO. Dalam penelitian ini data-data
yang telah diperoleh akan dianalisis terlebih dahulu dengan mencari
persentase perubahan (peningkatan/penurunan) masing-masing variabel.
Pengujian hipotesis kerja untuk masing-masing variabel menggunakan uji
one sample t-test dengan bantuan SPSS 12.00 for Windows. Hasil pengujian
mengidentifikasi adanya earnings management (pola big bath) pada dua
tahun setelah pergantian CEO yang hanya ditunjukkan dengan peningkatan
advertising and promotion expense saja dan penurunan total accruals
secara signifikan.
Dalam penelitian ini, analisis laba (rugi) bersih digunakan sebagai
kontrol terhadap hasil pengujian yang telah dilakukan. Hasil analisis
menunjukkan peningkatan advertising and promotion expense dan
penurunan total accruals ini tidak diikuti dengan perubahan laba (rugi)
bersih secara signifikan. Walaupun ada beberapa bukti yang mendukung
dari hasil identifikasi, tetapi earnings management merupakan suatu
fenomena yang masih sulit untuk diukur, jadi tidak dapat dipastikan
seberapa luas prakteknya pada emiten-emiten yang ada di Indonesia.