Abstract :
Telah dilakukan penelitian mengenai Pola Penggunaan Antimikroba Pada Pasien
Wanita Melahirkan dengan Cara Seksio Sesaria di Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a
Paulo Surabaya. Pengamatan dilakukan terhadap rekam medis pasien rawat inap pada tahun
2002. Jumlah pasien wanita melahirkan dengan cara seksio sesaria adalah sebanyak 100
pasien yang berasal dari 50 pasien di BKIA dan 50 pasien di paviliun 9. Variabel yang
terdapat dalam penelitian ini adalah kelompok usia yang terbanyak melahirkan dengan cara
seksio sesaria, jenis terapi antimikroba (tunggal/majemuk) yang paling banyak digunakan,
jenis antimikroba tunggal dan majemuk yang paling banyak digunakan, golongan antimikroba
tunggal dan majemuk yang paling banyak digunakan, frekuensi pemberian antimikroba, cara
pemberian antimikroba, rata-rata lama penggunaan antimikroba, rata-rata lama perawatan
pasien wanita melahirkan dengan cara seksio sesaria, indikasi seksio sesaria.
Berdasarkan analisis data-data yang ada pada penelitian ini, maka diperoleh hasil
bahwa kelompok usia yang paling banyak melahirkan dengan cara seksio sesaria pada BKIA
maupun paviliun 9 adalah kelompok usia 30-34 tahun (42,00 dan 38,00 %). Pasien wanita
melahirkan dengan cara seksio sesaria di BKIA sebelum dan setelah operasi, semuanya
mendapatkan terapi antimikroba (100 %). Pasien di paviliun 9 yang mendapatkan terapi
antimikroba sebelum operasi sebanyak 28,00% dan yang tidak mendapat terapi antimikroba
sebanyak 72 %. Sedangkan setelah operasi semua pasien di paviliun 9 mendapatkan terapi
antimikroba.
Jenis terapi antimikroba terbanyak di BKIA sebelum operasi adalah terapi antimikroba
tunggal, yaitu sebanyak 68,09 %. Setelah operasi, jenis terapi antimikroba yang terbanyak
adalah terapi antimkroba majemuk, yaitu sebanyak 50,91 %. Pasien yang ada di paviliun 9
mendapatkan jenis terapi antimikroba tunggal saja sebelum operasi dilakukan. Jenis terapi
antimikroba yang paling banyak digunakan setelah operasi adalah jenis terapi antimikroba
tunggal, yaitu sebanyak 91,67%.
Golongan antimikroba tunggal yang paling banyak digunakan di BKIA sebelum dan
setelah operasi pada pasien wanita melahirkan dengan cara seksio sesaria adalah golongan
penisilin (81,58% dan 42,59 %). Golongan antimikroba tunggal yang terbanyak digunakan di
paviliun 9 sebelum operasi adalah golongan penisilin dan sefalosporin (35, 71 %). Sedangkan
setelah operasi, yang paling banyak digunakan adalah golongan penisilin (34,09 %).
Golongan antimikroba majemuk yang paling banyak digunakan pada pasien wanita
melahirkan dengan cara seksio sesaria di BKIA sebelum dan setelah operasi adalah kombinasi
golongan penisilin dan aminoglikosida (88,24 %dan 64,28 %). Pasien yang ada di paviliun 9
tidak mendapatkan golongan antimikroba majemuk sebelum operasi dilakukan. Sedangkan
setelah operasi, golongan antimikroba majemuk yang paling banyak digunakan adalah
kombinasi golongan penisilin dan aminoglikosida (37,50 %).
Jenis antimikroba tunggal terbanyak yang diberikan kepada wanita melahirkan dengan
cara seksio sesaria di BKIA sebelum operasi adalah ampisilin {64,00 %), sedangkan setelah
operasi adalah tiamfenikol (42,00 %). Jenis antimikroba tunggal terbanyak yang diberikan di
paviliun 9 sebelum operasi adalah gentamisin (8,00 %). Sedangkan setelah operasi, jenis
antimikroba tunggal yang paling banyak digunakan adalah sama dengan yang diberikan
sebelum operasi, yaitu gentamisin (36,00 %). Jenis antimikroba majemuk terbanyak yang
diberikan kepada wanita melahirkan dengan cara seksio sesaria di BKIA sebelum dan setelah
operasi adalah kombinasi ampisilin dan gentamisin (30,00 % dan 70%). Pada paviliun 9,
sebelum operasi tidak ada pasien yang mendapatkan kombinasi antimikroba majemuk.
Sedangkan setelah operasi, jenis antimikroba majemuk yang paling banyak digunakan adalah
kombinasi (amoksisilin + asam klavulanat) dan sefotaksim, (amoksisilin + asam klavulanat)
dan metronidazol, sulbenisilin dan gentamisin, sefotaksim dan gentamisin, sulbenisilin dan
tobramisin, gentamisin dan tiamfenikol, gentamisin dan metronidazol, gentamisin dan
sultamisilin (2,00 %).
lntravena merupakan cara pemberian antimikroba yang paling banyak digunakan di
BKIA sebelum operasi, yaitu sebanyak 86,21 %. Sedangkan setelah operasi, cara pemberian
antimikroba yang paling banyak digunakan adalah melalui intravena dan oral, masing-masing
sebanyak 46,30 %. Pada paviliun 9, cara pemberian antimikroba yang paling banyak
digunakan sebelum dan setelah operasi adalah melalui intravena sebanyak 92,86 %dan 54,35
%. Rata-rata lama perawatan tiap pasien wanita melahirkan dengan cara seksio sesaria di
BKIA adalah 7,48 hari. Sedangkan rata-rata lama perawatan tiap pasien di paviliun 9 adalah
9,00 hari. ·
Indikasi seksio sesaria yang terbanyak pada pasien wanita melahirkan dengan cara
seksio sesaria adalah disproposi janin dan panggul sebanyak 32,00 %, sedangkan pada
paviliun 9 indikasi seksio sesaria yang terbanyak adalah per