Abstract :
CV Perjuangan Steel bergerak di bidang perindustrian baja di mana hasil
produksinya berupa besi kanal C. Untuk mendatangkan bahan baku diperlukan
sejumlah biaya yang dinamakan Order Cost dan biaya penyimpanannya
dinamakan Carrying cost dan kombinasi dari Order Cost dan Carrying Cost ini
dinamakan Total Inventory Variable Cost.
Masalah-masalah yang terjadi pada perusahaan ini antara lain tidak adanya
sistem inventori yang baku dan hanya berdasarkan sisa stock bahan baku yang ada,
sehingga perusahaan sering mengalami kelebihan stock yang mengakibatkan
tingginya biaya simpan. Masalah kedua adalah luas area gudang yang kurang
mencukupi sehingga perusahaan hanya mampu memesan bahan baku ke suplier
PT Krakatau Steel sebesar 45 % dari total seluruh permintaan, dan selebihnya
perusahaan harus memesan bahan baku ke perusahaan retail, di mana perusahaan
retail ini memiliki harga jual bahan baku yang lebih tinggi dibanding dengan PT
Krakatau Steel, sehingga perusahaan tidak dapat memaksimalkan keuntungannya.
Untuk dapat membuat perencanaan persediaan bahan baku, dibutuhkan
sejumlah data yang penulis dapatkan dengan cara interview dan observasi. Data-data
tersebut yaitu data permintaan, data kedatangan bahan baku dari setiap
suplier dan data sisa stok selama 30 bulan terkahir serta data biaya dan data-data
lainnya yang mendukung pembentukan sistem ini.
Metode-metode yang digunakan adalah EOQ untuk menghitung Total
Inventory Variable Cost awal perusahaan dan FOI single suplier multiple item
untuk menghitung Total Inventory Variable Cost usulan perusahaan. Pada
akhirnya didapatkan bahwa dengan menggunakan FOl single suplier mutiple item
dapat menurunkan Total Inventory Variable Cost awal perusahaan yaitu dari Rp
286.887.586,693 menjadi Rp 195.928.881,100. Tetjadi penghematan sebesar Rp
91.158.705,500
Karena perusahaan menginginkan 95 % permintaan dipenuhi oleh PT
Krakatau Steel, maka perusahaan memperluas area gudang dari seluas 300m2 pada
awalnya dan menjadi 486m2 pada akhirnya.