Institusion
Universitas Bangka Belitung
Author
Ardiani, (NIM. 5011811026)
Subject
JA Political science (General)
Datestamp
2023-03-31 02:06:11
Abstract :
Penelitian ini secara umum berusaha untuk melihat wacana praktik perkawinan anak yang dimunculkan dalam film Yuni dengan metode penelitian analisis wacana kritis pemikiran dari Norman Fairclough yang dikenal dengan analisis 3 dimensi yaitu teks, praktik kewacanaan (discourse practice) dan praktik sosial (sociocultural practice). Menurutnya ada semacam dialektika yang terjadi antara konteks sosial (makro) dan bahasa (mikro) itu sendiri. Dengan demikian, Fairclough berusaha menggabungkan linguistic traditional dan socio-linguistic. Menurutnya, untuk mengetahui makna teks secara keseluruhan, tidak cukup jika hanya melihat aspek linguistik sehingga perlu menghubungkannya dengan konteks sosial. Dengan begitu, meskipun sebenarnya film merupakan bagian dari kajian sastra, penelitian ini tidak akan kehilangan aspek sosiologisnya. Penelitian ini akan menganalisis setiap adegan yang memuat teks atau wacana praktik perkawinan anak, menganalisis bagaimana penonton menginterpretasikan film tersebut melalui aplikasi yang mempunyai fitur komentar dan menganalisis konteks sosial diluar media yang mempengaruhi teks yang dimunculkan dalam film Yuni. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis tayang yang kemudian dilakukan tangkap layar pada adegan yang memuat teks perkawinan anak. Tidak hanya itu, peneliti juga mengumpulkan data melalui studi ustaka dan dokumentasi yang kemudian keseluruhan data tersebut dianalisis menggunakan analisis 3 dimensi dari Norman Fairclough. Dari hasil analisis yang dilakukan oleh peneliti, sekurangnya terdapat 9 adegan yang memuat wacana praktik perkawinan anak dalam film Yuni diantaranya menyampaikan bahwa masih ada anggapan bahwa pendidikan bagi perempuan tidak penting, beberapa masyarakat belum mengetahui keberadaan UU pasal 7 nomor 16 tahun 2019, perkawinan anak tidak dibekali dengan fisik, psikis dan pengetahuan yang matang, lingkungan berperan penting dalam mengarahkan remaja, adanya paham-paham keliru yang mendorong terjadinya praktik perkawinan anak, dan pihak sekolah yang belum berfungsi dengan maksimal.