DETAIL DOCUMENT
Konflik otoritas antara kelompok tani dengan pengusaha dan makelar tanah di Desa Serdang Kecamatan Toboali
Total View This Week0
Institusion
Universitas Bangka Belitung
Author
Rendy, (NIM. 5011611035)
Subject
HM Sociology 
Datestamp
2023-09-05 07:03:22 
Abstract :
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dinamika pada konflik lahan bernuansa otoritatif yang terjadi antara masyarakat Desa Serdang dengan pengusaha dan makelar tanah di Desa Serdang, Kecamatan Toboali dan menganalisis menganalisis implikasi sosial dari konflik yang terjadi antara kelompok tani dengan pengusaha-makelar tanah bagi masyarakat di Desa Serdang, Kecamatan Toboali. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Sumber data penelitian berasal dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan Camat Toboali, Sekretaris Desa, Pengusaha, makelar tanah dan masyarakat dari kelompok tani. Sedangkan observasi difokuskan pada ketegangan sosial antara pihak pengusaha dan makelar dengan kelompok tani. Data sekunder diperoleh melalui dokumentasi dan berbagai dokumen pendukung. Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Teori yang digunakan untuk menganalisis konflik otoritas dalam penelitian ini adalah teori konflik dialegtika Ralf Dahrendorf. Hasil kajian terdiri dari: Pertama, Konflik Perebutan Lahan Bernuansa Otoritatif Antara Kelompok Tani Dengan Pengusaha dan Makelar Tanah diawali oleh aktivitas jual-beli tanah yang tidak transparan seluas 70 hektar lahan milik masyarakat tani Desa Serdang. Terdapat perbedaan otoritas, posisi dan kepentingan antara pihak yang menjadi bagian dari relasi pengusaha-makelar seperti pihak kecamatan dan pihak Desa dalam mempermudah administrasi SP3AT. Sedangkan kelompok tani cenderung lemah secara otoritas. Kedua, implikasi sosial dari konflik terhadap masyarakat diantaranya seperti masyarakat tani kelihangan lahan produktif untuk pertanian, sumber mata pencaharian petani semakin minim, munculnya kecurigaan kelompok tani terhadap pemerintah dan bertambahnya solidaritas in-group. Kemudian upaya penyelesaian konflik dilakukan melalui jalur pengadilan namun dimenangkan oleh pihak pengusaha 
Institution Info

Universitas Bangka Belitung