DETAIL DOCUMENT
Analisis interaksionisme simbolik pada tradisi Peh Cun di Desa Rebo Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka
Total View This Week0
Institusion
Universitas Bangka Belitung
Author
Kurnia Putri, (NIM. 5011911024)
Subject
HM Sociology 
Datestamp
2024-02-06 01:46:17 
Abstract :
Tradisi merupakan warisan masa lalu yang dilakukan secara berulang- ulang dan diwariskan secara turun- temurun. Tradisi Peh Cun merupakan salah satu tradisi masyarakat Tionghoa yang dilakukan setiap tahunnya dan masih bertahan sampai saat ini. Setiap tradisi yang dilakukan masyarakat tak lepas dari simbol, simbolik, makna yang merupakan bentuk sarana penyampaian informasi kepada objek. Penggunaan simbolik tradisi mengandung makna tertentu sesuai dengan kesepakatan dalam masyarakat. Tradisi Peh Cun dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa di Desa Rebo dengan menyiapkan kue cung yang menjadi simbol pada tradisi ini. bentuk- bentuk simbolik dan makna yang terkandung dalam tradisi ini sangat mempengaruhi masyarakat luas untuk terus melaksanakannya sampai saat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pemaknaan masyarakat Tionghoa di Desa Rebo terhadap bentuk-bentuk simbolik dalam perayaan tradisi Peh Cun serta menganalisis implikasi makna tradisi Peh Cun terhadap kehidupan sosial masyarakat Tionghoa di Desa Rebo. Teori yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini adalah teori Interaksionisme Simbolik yang digaagas oleh Herbert Blumer yang dikaji melalui tiga prinsip utama yaitu, pemaknaan (meaning), bahasa (language), dan pikiran (thought). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data primer dan sekunder. Hasil penelitian menemukan bahwa bentuk-bentuk simbolik pada tradisi peh cun merupakan hasil interaksi yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa dengan pendahulu mereka. Bentuk-bentuk simboliknya yaitu tali puar, daun pandan,beras ketan, dan bentuk segitiga memiliki tiga sisi. Makna yang diperoleh pada tradisi ini pertama tali puar yang bermakna perlindungan dari energi negatif, kedua daun pandan bermakna kesuburan dan kesejahteraan, ketiga beras ketan bermakna persatuan dan kekokohan, dan bentuk segitiga tiga sudut, sudut pertama bermakna kerukunan rumah tangga, kedua saling percaya dan kerjasama, dan terakhir kesetiaan serta solidaritas. 
Institution Info

Universitas Bangka Belitung