Institusion
Universitas Bangka Belitung
Author
Cania Putri Nimalasari Gulo, (NIM. 2062011043)
Subject
SH Aquaculture. Fisheries. Angling
Datestamp
2024-07-22 02:03:51
Abstract :
Dalam budidaya banyak sekali kendala yang dialami pembudidaya seperti periode pemeliharaan yang lama dan waktu molting yang tidak serentak. Rekayasa fisiologis dibutuhkan untuk mempercepat molting melalui pemanfaatan tanaman
seperti bayam. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh bayam dan kapur terhadap durasi molting kepiting bakau (Scylla spp) dan menganalisis pengaruh ekstrak bayam dan kapur terhadap tingkat kelangsung hidup kepiting bakau. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 kali pengulangan. Adapun perlakuan yang dilakukan yaitu, K:
Penyuntikan ekstrak bayam 60 mg.L-1 sebagai kontrol, P1 : Penyuntikan ekstrak bayam 40 mg.L-1 dengan kapur 2 gram, P2 : Penyuntikan ekstrak bayam 60 mg.L- 1 dengan kapur 4 gram, P3 : Penyuntikan ekstrak bayam 80 mg.L-1 dengan kapur
6 gram. Hasil penelitian menunjukan penginjeksian ekstrak bayam dan pemberian kapur dengan berbagai konsentrasi, memberikan pengaruh yang berbeda terhadap durasi molting kepiting. Hasil penelitian menunjukan bahwa durasi molting yang cepat didapatkan pada perlakuan P3 dengan rata-rata molting 10-32 hari. Survival rate dari berbagai macam perlakuan mendapatkan nilai kelulushidupan sebesar
100% hal ini menunjukan hormon ekdisteroid yang terkandung dalam bayam dapat berperan dalam meminimalkan pengaruh stress karena kemampuannya dalam meningkatkan resistensi tubuh terhadap stress, dan meningkatkan energi. Hal lain
juga diduga karena sistem apartemen yang digunakan kepiting hanya diletakkan satu ekor dalam satu wadah sehingga tidak terjadinya kanibalisme.