Abstract :
Keberadaan kelompok suporter dalam sebuah tim sepakbola menjadi
faktor pendorong yang memberikan dampak tertentu kepada sebuah tim
sepakbola. Seperti kelompok supporter Viking yang merupakan kelompok
pendukung garis keras dari tim sepakbola Persib Bandung. Kehadiran Viking
tidak hanya memberikan keuntungan melalui dorongan semangat nyanyian dan
yel yang diberikan saat tim Persib Bandung bertanding, tetapi juga dapat
merugikan tim apabila melakukan tindakan dukungan yang mengarah pada
provokatif, anarkis dan nyanyian rasis. Oleh karenanya diperlukan kemampuan
komunikasi yang tepat dari ketua kelompok untuk memberikan edukasi dan
mengarahkan anggota supporter Viking kepada tindakan dan perilaku fanatisme
yang positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap Strategi Komunikasi
Ketua Suporter Persib Regional Bekasi Dalam Membangun Fanatisme Positif
Anggota Viking Bekasi Selatan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan
pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara,
observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis
data kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian, mengenai upaya yang dilakukan oleh ketua
supporter dalam mengkomunikasikan fanatisme positif dikalangan anggotanya
adalah melalui pendekatan persuasif. Melalui pendekatan emosional dengan
anggota dan mengenal lebih jauh kehidupan anggota, ketua supporter dapat
membimbing dan membina anggotanya mengenai fanatisme positif dalam
kelompok suporter. Kemudian pesan-pesan komunikasi yang disampaikan dalam
membangun fanatisme positif dikalangan anggota supporter Viking Bekasi
Selatan, ketua supporter menggunakan pesan dalam bentuk bahasa verbal seperti
kalimat ajakan, dan himbauan serta arahan pada anggotanya untuk bersama-sama
membangun fanatisme positif, dan penggunaan simbol-simbol nonverbal untuk
memberikan contoh bentuk tindakan dan perilaku fanatisme positif kepada
anggota. Hambatan-hambatan yang dihadapi oleh Ketua suporter Viking Bekasi
Selatan dalam membangun fanatisme positif dikalangan anggota antara lain
adalah jumlah anggota yang besar, rendahnya tingkat pendidikan beberapa
anggota, dan adanya budaya meminum minuman keras dari anggota dalam
mendukung tim bertanding.