Abstract :
Jagung (Zea Mays) merupakan salah satu tanaman pangan potensial di
Indonesia dalam upaya peningkatan ekonomi nasional. Upaya dalam
meningkatkan produksi untuk menekan impor jagung pemerintah perlu
memanfaatkan lahan-lahan pertanian yang berpotensi di Indonesia. Salah satu
lahan pertanian yang berpotensi untuk usahatani jagung adalah lahan kering.
Daerah Nusa Tenggara Barat merupakan daerah yang sangat berpotensi bagi
pengembangan jagung pada lahan kering karena sekitar 1.807.463 ha atau 84 %
luas wilayahnya merupakan lahan kering.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pengembangan
usahatani jagung pada lahan kering di Kecamatan Pringgabaya dan kendala
internal dan eksternal yang dihadapi dalam usahatani jagung lahan kering d i
Kecamatan Pringgabaya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,
adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara
dan kuesioner. Terdapat tiga desa sampel yaitu Desa Gunung Malang,
Pringgabaya Utara dan Labuhan Lombok dengan pertimbangan bahwa ketiga desa
tersebut merupakan desa yang memiliki jumlah petani jagung lahan kering
terbanyak. Teknik analisis data yang diterapkan adalah analisis deskriptif, analisis
SWOT dan analisis QSPM.
Berdasarkan hasil penelitian, strategi pengembangan yang dapat
diterapkan dalam usahatani jagung pada lahan kering di Kecamatan Pringgabaya
adalah : (1) Meningkatkan produksi melalui intensifikasi dan ekstensifikasi
dengan menerapkan paket teknologi anjuran, (2) Meningkatkan kerjasama dengan
mitra yang ada dan memanfaatkan produksi jagung untuk membuat produk
olahan, (3) Memanfaatkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang ada serta
mengoptimalkan kelompok tani melalui pelatihan, (4) Menyediakan modal
usahatani melalui KUR atau kredit lain. Kendala internal yang dihadapi petani
yaitu : (1) Keterbatasan modal, (2) Penerapan teknologi budidaya masih kurang,
dan (3) Kurangnya kerjasama dengan mitra yang ada. Sedangkan kendala
eksternal yang dihadapi petani yaitu (1) Perubahan iklim yang tidak menentu, (2)
Serangan hama dan penyakit, dan (3) Harga jagung yang fluktuatif.