Abstract :
Di indonesia yang menjadi rujukan tradisi mogang adalah dari Aceh yang
berawal dari Sultan Iskandar Muda pada abad ke - 17 yang sudah diatur oleh Qanun
Meukuta Alam Al Asyi atau undang-undang kerajaan pada masa itu, tradisi ini diberi
nama adalah Meugang berasal dari bahasa daerah yang artinya membeli daging,
tradisi ini dilakukan oleh Sultan untuk dibagikan kepada masyarakat fakir miskin
pada masa itu, Sultan mempunyai hewan ternak yang begitu banyak sehingga seluruh
masyarakat yang ada di Aceh dulunya dapat dibagikan merata. Kerajaan mempunyai
lembaga resmi untuk mendata seluruh masyarakat yang menengah kebawah supaya
diberikan lebih oleh kerajaan.
Salah satu daerah di Indonesia yang masih melakukan tradisi mogang ini
adalah Kabupaten Batu Bara. Wilayah Batu Bara berasal dari satu pemukiman di
pinggir Selat Malaka di muara sungai yang sekarang kita kenal dengan sungai Batu
Bara. Sungai ini mengalir jauh dari pedalaman dan merupakan prasarana dan
transportasi masyarakat melalui jalur air di desa desa pedalaman menuju desa di
muara sungai yang dikenal dengan sungai bagan luar. Letaknya persis di pesisir
pantai perbatasan langsung dengan Selat Malaka. Pemukiman ini dikenal masyarakat
sebagai pemukiman tua, ditandai dengan ditemukannya makam orang yang berasal
dari berbagai etnik di nusantara seperti, makam Syekh Maulana Abdullah asal Bugis (
1704 ), Pagaruyung dan Aceh. Berdasarkan informasi dari sumber yang kredibel
ditengarai bahwa keberadaan makam ini ada sejak awal abad ke 18. Fakta ini member
petunjuk bahwa kampong yang terletak persis dibibir pantai Selat Malaka di muara
sungai Batu Bara wilayah Tanjung Tiram sekarang telah dihuni Masyarakat sejak
abad ke 17 yang lalu.
Masuknya Tradisi mogang di Batu Bara dilakukan Sultan Alamuddin pada
tahun 1728. Sultan Alamuddin itu membuat perkampungan disini, setelah Sultan
Alamuddin mengalahkan Shahjahan panglima Aceh itu, orang orang Aceh yang ada
di Batu Bara pergi berpulangan, selain orang orang Aceh, orang orang Siak juga
banyak bertempat tinggal disini, setelah itu mereka membuat kampung masing
masing, jadi supaya bias berkumpul panglima panglima dari kedatukan Tanah Datar,
kedatukan Kuala Tanjung, jadi untuk mengumpulkan masyarakat, panglima, jadi raja
ini mengambil kerbau raja, kerbau raja dulu banyak, jadi raja itu menyembelihlah
untuk makan masyarakat, panglima serta pihak kerajaan sekalian menyambut bulan
puasa dan hari raya