Abstract :
Penelitian ini bertujuan mengungkap tentang orientasi Pendidikan pesantren Muhammadiyah di Sumatera Utara yang tentu saja diselenggarakan oleh organisasi Muhammadiyah. Tiga masalah pokok sebagai fokus penelitian ini adalah: bagaimana sistem pendidikan pesantren Muhammadiyah di Sumatera Utara? Bagaimana orientasi pendidikan pesantren Muhammadiyah di Sumatera Utara dan bagaimana implementasinya di dalam penyelenggaraan pendidikan?
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, sejarah, dan sosiologi. Strategi pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknis analisis kualitatif model Mattheus B. Miles dan Michael A. Huberman terdiri dari reduksi data, penyajian data, serta ferifikasi yang dilanjutkan dengan penarikan kesimpulan (drawing conclusion). Selanjutnya dalam menganalisis implementasi orientasi pendidikan penelitian ini menggunakan teori variabel yang mempengaruhi implementasi dalam kebijakan publik dengan meminjam teori yang dimunculkan oleh Edwar III.
Temuan penelitian, yaitu: Pertama, Ada dua pesantren Muhammadiyah di Sumatera utara sebagai lembaga perkaderan calon ulama. Dua pesantren ini bertipologi khalafi (modern). Dalam ketentuan Muhammadiyah dua pesantren ini digolongkan sebagai ?pesantren integral? yaitu pesantren berbasis madrasah. Dua pesantren ini tidak mengenal kepemimpinan kyai dan tradisi pembelajaran kitab kuning yang menggunakan metode sorogan, bandongan, dan wetonan serta tidak memiliki spesifikasi keilmuan tertentu.
Kedua, Sistem pendidikan yang terdiri dari tujuan, kurikulum, pendidik, peserta didik, proses pembelajaran, menejemen, sarana prasarana, dan iklim (budaya) pembelajaran tidak menggambarkan secara jelas dan sistemik untuk tujuan pemenuhan penyiapan calon kader ulama. Sistem pendidikan yang dijalankan masih terkonsentrasi pada pencapaian tuntutan standar kemadrasahan. Ketiga, ada tiga orientasi pendidikan yang ditemukan di dalam program pendidikannya yaitu orientasi keulamaan, orientasi kemodernan, dan orientasi praksis sosial. Namun langkah ?langkah yang dilaksanakan untuk merealisasikan tiga orientasi ini belum optimal disebabkan sistem pendidikan yang tidak bersinergis dengan tujuan ideal institusional pesantren. Kedua adalah bahwa penyelenggaraan pondok pesantren di lingkungan ormas ini ternyata belum memiliki standar penyelenggaraan sebagai bahan acuan.