Abstract :
Pemberitaan media terkait kekerasan seksual yang dilakukan oleh pemuka agama
dianggap penting dan mendesak untuk diketahui oleh publik karena kasus
kekerasan seksual di Indonesia terus mengalami peningkatan, pelaku dan korban
kekerasan seksual bisa berasal dari elemen masyarakat manapun, dan media lokal
dalam pemberitaannya kerap mengedepankan representasi dari lokalitasnya tanpa
memperhatikan keadilan bagi korban. Salah satu kasus yang melibatkan pemuka
agama sebagai pelaku kekerasan seksual adalah kasus Herry Wirawan yang
memperkosa 13 santriwati di Bandung, Jawa Barat. Pikiran-rakyat.com adalah
media lokal yang banyak memberitakan kasus tersebut. Sebagai media lokal,
Pikiran-rakyat idealnya mampu menawarkan tanggapan yang independen dan kritis
terhadap isu-isu lokal, membuat elit lokal akuntabel menyediakan forum untuk
ekspresi pandangan lokal tentang isu-isu yang menjadi perhatian dari masyarakat,
dan juga yang memegang tongkat dalam perdebatan tentang isu-isu signifikan yang
sering muncul di dalam dan di luar masyarakat. Oleh karena itu, dilakukan
penelitian untuk melihat bagaimana elit lokal yaitu pemuka agama ditampilkan
dalam pemberitaan sebagai pelaku dan santriwati sebagai korban kekerasan seksual
di Pikiran-rakyat.com. Penelitian ini menggunakan konsep media lokal dari
Aldridge dengan pendekatan kualitatif, dan teknik analisis wacana kritis Theo Van
Leeuwen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberitaan kasus kekerasan
seksual pada 13 santriwati menggambarkan pemuka agama yang merupakan pelaku
pemerkosaan dengan cara dimarginalkan, dipojokkan, atau dikucilkan dalam
pemberitaan. Hal tersebut ditunjukkan dengan istilah seperti, predator seksual atau
sang predator, aksi biadab, serta orang/perilaku bejat. Sementara santriwati
ditampilkan sebagai korban yang mengalami ketidakadilan oleh perbuatan pelaku
yaitu diperkosa, hamil dan melahirkan hingga mengalami depresi. Selain itu,
ditemukan juga aktor lain yang ditampilkan dalam pemberitaan yaitu narasumber.
Narasumber yang digambarkan dalam pemberitaan tersebut yaitu sebagai pihak
yang membela korban dengan memojokkan pelaku. Oleh karena itu, pemberitaan
Pikiran-rakyat.com sebagai media lokal tidak terjebak dalam identitas lokalnya baik
itu agama, budaya atau kebiasaan, maupun peraturan daerahnya yaitu Bandung.
Pikiran-rakyat.com berhasil menjadi media lokal yang tetap menjalankan
peranannya dimana mampu membuat elit lokal akuntabel, mementingkan
kepentingan masyarakat dalam mendapatkan informasi dan menyuarakan
kelompok-kelompok minoritas untuk mendapatkan keadilan secara khusus
mengenai kasus kekerasan seksual.
Kata Kunci: Kekerasan Seksual, Media Lokal , Elit Lokal, Pemuka Agama. / Media outlets on sexual violence carried out by religious leaders are deemed
important and urgent to be made public because sexual violence in Indonesia
continues to rise, perpetrators and victims of sexual violence can come from any
element of society, and local media in its reporting often promote a representation
of local justice for the victims. One case involving religious leaders as perpetrators
of sexual violence involves religious leaders the Herry Wirawan raped 13
santriwati in bandung, west Java. Pikiran-rakyat.com are local media which is
making a lot of news about this case. As local media, Pikiran-rakyat.com ideally be
able to offer independent and critical responses to local issues, making local elites
accountable to provide a forum for local expressions of views on issues that are of
concern to society, as well as those holding a stake in the debate on significant
issues that often arise inside and outside of society. Therefore, research has been
conducted to see how the local elite of religious leaders are presented in the news
as perpetrators and santriwati as victims of sexual violence on Pikiran-rakyat.com.
The study USES local media concepts from Aldridge with qualitative approaches,
and Theo Van Leeuwen. Studies have shown that the news of sexual violence in 13
santriwati depicts religious leaders who were marginalized, or ostracized in the
public declaration. It is indicated in such terms as sexual predator or predator,
barbaric, and leanerous behavior. While santriwati is presented as a victim of
injustice by rape, pregnancy and childbirth until depression. Also, another actor
featured in the news is the source. The source described in the report as the one
who defended the victim by blaming the perpetrators. Therefore, the preaching of
Pikiran-rakyat.com asa local media is not caught up in its local identity whether
it's religion, culture or custom, or local regulation of bandung. Pikiran-rakyat.com
has been successful asa local media which continues to carry out their role by
enabling local elites to be accountable, putting public interests at work and voicing
minority groups to get special justice in cases of sexual violence.