Abstract :
Konstipasi adalah kondisi yang ditandai dengan gejala distensi abdomen, terjadi
kurang dari tiga kali seminggu atau bahkan lebih dari tiga hari tidak buang air
besar, mengejan saat defekasi, volume feses sedikit, keras, dan kering. Gejala ini
berlangsung minimal 3 bulan. Kebersihan lingkungan yang dianalisis berdasarkan
personal hygiene (kebersihan tubuh, kebiasaan sikat gigi, kebiasaan mencuci
tangan) dan sanitasi lingkungan (ketersediaan air bersih, pembuangan
tinja/jamban, limbah dan sampah) dimana keduanya dapat berpengaruh pada
dysbiosis (ketidak seimbangan microbiota) saluran pencernaan khususnya pada
responden konstipasi. Adanya dysbiosis dapat menyebabkan kelainan sistemik,
termasuk gangguan dalam proses penyerapan nutrisi, yang dapat menyebabkan
gangguan metabolisme. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan hubungan
personal hygiene dan sanitasi lingkungan dengan kejadian konstipasi fungsional
pada perempuan dibandingkan kontrol di RW 04 Kelurahan Petamburan. Model
penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif total sampling,
desain cross sectional. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan bahwa faktor
sanitasi lingkungan (p=0.436) dan kriteria rumah tidak sehat (p=0.091) yang lebih
mempengaruhi kejadian konstipasi dibandingkan personal hygiene. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa probabilitas lebih besar dari level of significance (p < 0,05).
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang tidak
signifikan antara sanitasi lingkungan dan penilaian rumah sehat dengan angka
kejadian konstipasi fungsional pada perempuan di RW 04 Kelurahan Petamburan.
Kata Kunci: Konstipasi, Dysbiosis, Personal hygiene, Sanitasi Lingkungan. / Constipation is a condition characterized by symptoms of abdominal distension,
occurring less than three times a week or even more than three days without having
a bowel movement, straining during defecation, small volume of stools, hard and
dry. These symptoms last at least 3 months. Environmental cleanliness is analyzed
based on personal hygiene (body hygiene, tooth brushing habits, hand washing
habits) and environmental sanitation (availability of clean water, feces/latrine
disposal, waste and garbage) where both can affect dysbiosis (microbiota
imbalance) of the digestive tract, especially constipated respondents. The presence
of dysbiosis can lead to systemic disorders, including disturbances in the process of
absorption of nutrients, which can lead to metabolic disturbances. The purpose of
this study was to prove the relationship between personal hygiene and
environmental sanitation with the incidence of functional constipation in women
compared to controls in RW 04 Petamburan Village. The research model used in
this research is quantitative total sampling, cross sectional design. Based on the
interview results, it was found that environmental sanitation factors (p=0.436) and
unhealthy house criteria (p=0.091) had more influence on the incidence of
constipation than personal hygiene. These results indicate that the probability is
greater than the level of significance (p <0.05). Therefore, it can be concluded that
there is no significant relationship between environmental sanitation and
assessment of healthy homes with the incidence of functional constipation in
women in RW 04 Petamburan Village.
Keywords: Constipation, Dysbiosis, Personal hygiene, Environmental Sanitation