Abstract :
Indonesia mempunyai sumber daya alam yang sangat berlimpah seperti
keanekaragaman pada biota laut, salah satunya adalah balakutak (Sepia
officinalis). Balakutak memiliki potensi sebagai sumber gizi karena kandungan
omega 3, kandungan protein, lemak, mineral, antioksidan dan yang lainnya. Hasil
uji fitokimia pada daging balakutak dengan ekstrak etanol ditemukan beberapa
senyawa alkaloid, triterpenoid, tanin dan glikosida. Saat ini, sebagian besar
masyarakat hanya mengkonsumsi balakutak sebagai lauk saja. Padahal, daging
balakutak memiliki kemungkinan untuk diolah menjadi sumber antioksidan.
Penelitian terkait manfaat dan kandungan senyawa kimia dari tinta sudah banyak
dilakukan. Namun, penelitian terkait daging balakutak masih jarang dilakukan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak
daging balakutak. Penelitian ini bersifat eksperimental in vitro yang bertujuan
untuk menguji aktivitas antiradikal bebas DPPH pada berbagai tingkatan
konsentrasi (10ppm, 50ppm, 100ppm, 150ppm, dan 200ppm). Dilakukan maserasi
selama 24 jam dengan 3 kali pengulangan dan dilakukan proses evaporasi
menggunakan rotary vacuum evaporator. Pada uji aktivitas antioksidan dengan
menggunakan metode DPPH (2,2 Difenil -1- Pikrilhidrazil) didapat hasil
persentase daya hambat terbesar pada 47,79%. Berdasarkan data yang didapat
disimpulkan bahwa ekstrak daging balakutak dengan pelarut etanol memiliki
tingkat antioksidan yang sangat lemah.
Kata kunci: antioksidan, balakutak, DPPH, radikal bebas. / Indonesia has abundant natural resources such as diversity in marine biota, one
of which is the balakutak (Sepia officinalis). Balakutak has the potential as a
source of nutrition because of the omega 3, protein, fat, minerals, antioxidants,
and others. Phytochemical test results on balakutak flesh with ethanol extract
found several alkaloids, triterpenoids, tannins and glycosides. Currently, most
people only consume balakutak as a side dish. Whereas balakutak has a potential
of becoming antioxidant source. Many studies have been carried out regarding
the benefits and content of chemical compounds from the ink. However, research
on balakutak flesh is still rare. This study aims to determine the antioxidant
activity of balakutak flesh extract. This study was an in vitro experimental study
aimed at testing the free anti-radical activity of DPPH at various concentration
levels (10ppm, 50ppm, 100ppm, 150ppm, and 200ppm). Maceration was carried
out for 24 hours with 3 repetitions and the evaporation process was carried out
using a rotary vacuum evaporator. In the antioxidant activity test using the DPPH
method (2,2 Diphenyl -1-Picrylhydrazyl) the highest percentage of inhibition
obtained was 47.79%. Based on the data obtained it was concluded that balakutak
flesh extract with ethanol solvent has a very weak antioxidant level.
Keywords: antioxidant, balakutak, DPPH, free radical