Abstract :
Perempuan berpendidikan tinggi di Indonesia masih sering menghadapi stereotip yang
mengikat mereka pada peran domestik dan meragukan kemampuan mereka diranah publik.
Hal yang menarik perhatian publik di media sosial Twitter (sekarang dikenal sebagai X)
adalah sebuah unggahan pada tanggal 08 Agustus 2021 dari akun ?AreaJulid? akun
tersebut, yang memiliki sekitar 5 juta pengikut, sebuah unggahan yang membahas tentang
perempuan berpendidikan tinggi. Unggahan ini mendapat respon yang signifikan dari
pengguna platform tersebut, dengan tercatat sekitar 1.2 rb, 24 rb likes, dan 2 rb retweet.
Komentar-komentar pada unggahan tersebut tercatat pada tanggal 08, 09, 10, 11, 12
agustus 2021. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif dan Teori
Feminisme Liberal, konsep Patriarki dan Stereotip Gender. Pada penelitian ini
menggunakan metode netnografi dengan mengumpulkan komentar yang ada pada akun
twitter @Area Julid lalu melakukan koding pada komentar tersebut. Hal ini dilakukan
untuk memahami bagaimana warganet di twitter mendiskusikan mengenai perempuan
berpendidikan tinggi, khususnya pada akun dari argumentasi perempuan pada twitter
tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Terdapat
pergeseran positif dalam persepsi warganet, terlihat dari pengakuan hak pendidikan,
pentingnya pendidikan tinggi, dan dukungan untuk pilihan individu. Banyak komentar
mengakui hak yang sama bagi perempuan untuk mengakses pendidikan tinggi,
menunjukkan perubahan signifikan dari pandangan tradisional. Meskipun demikian,
penelitian juga mengungkapkan bahwa cara berpikir tradisional masih bertahan di
kalangan sebagian warganet. Masih banyak komentar yang melekatkan peran domestik
pada perempuan, menganggap bahwa meskipun berpendidikan tinggi, perempuan akan
"kembali ke dapur". Konsep "dapur berpendidikan tinggi" menunjukkan bahwa meski ada
pengakuan terhadap manfaat pendidikan, masih ada kecenderungan untuk mengaitkan
perempuan dengan peran domestik, bahkan setelah berpendidikan tinggi. Penelitian ini
memberikan pemahaman tentang bagaimana respon warganet khususnya di twitter
terhadap isu perempuan berpendidikan tinggi, sehingga upaya untuk mengubah pola pikir
dan mempromosikan kesetaraan gender dapat dilakukan dengan lebih baik.
Kata kunci: Perempuan, kesetaraan pendidikan, kesetaraan gender,partriarki,
media sosial. / Highly educated women in Indonesia still often face stereotypes that bind them to domestic
roles and doubt their abilities in the public sphere. What caught the public's attention on
social media Twitter (now known as X) This upload received a significant response from
users of the platform, with around 1.2 thousand recorded, 24 thousand likes and 2 thousand
retweets. The comments on the upload were recorded on 08, 09, 10, 11, 12 August 2021.
This research uses a qualitative descriptive research type and Liberal Feminism Theory,
the concept of Patriarchy and Gender Stereotypes. This research uses the netnography
method by collecting comments on the Twitter account @Area Julid and then coding the
comments. This was done to understand how netizens on Twitter discuss highly educated
women, especially in accounts of women's arguments on Twitter. Based on the results of
research that has been conducted, it shows that there is a positive shift in netizens'
perceptions, as seen from the recognition of the right to education, the importance of higher
education, and support for individual choices. Many comments acknowledged women's
equal rights to access higher education, representing a significant shift from traditional
views. However, research also reveals that traditional ways of thinking still persist among
some netizens. There are still many comments that attach domestic roles to women,
assuming that even though they are highly educated, women will "return to the kitchen".
The concept of the "highly educated kitchen" shows that despite recognition of the benefits
of education, there is still a tendency to associate women with domestic roles, even after
being highly educated. This research provides an understanding of how netizens, especially
on Twitter, respond to the issue of highly educated women, so that efforts to change
mindsets and promote gender equality can be carried out better.
Keywords: Women, education equality, gender equality, partriarchy, social media.