Abstract :
Kriptokokosis merupakan infeksi oportunistik yang disebabkan oleh jamur
berkapsul Cryptococcus neoformans. Penyakit ini dapat menginfeksi individu
imunokompromis seperti penderita HIV/AIDS ataupun individu imunokompeten.
Kotoran burung merpati diketahui telah menjadi reservoir bagi pertumbuhan jamur
Cryptococcus neoformans. Sampel kotoran burung yang digunakan pada penelitian
ini berasal dari Pasar Hewan Jatinegara, Jakarta Timur. Pasar Hewan merupakan
contoh dari tempat yang telah tercemar oleh kotoran burung seperti merpati, hal
tersebut mungkin dapat mendukung perkembangan Cryptococcus neoformans.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan Crosssectional dengan total 85 sampel yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui keberadaan jamur Cryptococcus neoformans yang terdapat pada kotoran
burung merpati di Pasar Hewan Jatinegara. Peneltian ini menggunakan metode
pemeriksaan kultur Saboroud Dextrose Agar dan Bird Seed Agar sebagai medium
untuk mengidentifikasi jamur tersebut, dan dilanjutkan dengan metode pemeriksaan
langsung dengan pengggunaan tinta India. Hasil pada penelitian ini menunjukan
bahwa 11 dari 85(12,94%) sampel kotoran burung merpati yang telah diuji
dinyatakan positif mengandung jamur Cryptococcus neoformans. Berdasarkan uji
sensifitas terhadap beberapa antijamur, jamur Cryptococcus neoformans tersebut
masih sensitif (100%) terhadap anti jamur ketokonazole. Penemuan ini menunjukan
bahwa lingkungan di daerah Pasar Hewan Jatinegara dapat menjadi ancaman
penyebaran jamur Cryptococcus neoformans sehingga perlu dilakukan tindakan
pencegahan.
Kata kunci : Cryptococcus neoformans, kotoran burung merpati, penderita AIDS. / Cryptococcosis is oportunistic infection which caued by encapsulated fungus
Cryptococcus neoformans. This disease infects immunocompromised individuals
such as HIV/AIDS sufferers or immunocompetent individuals. Pigeon droppings are
known to be a reservoir for the growth of the fungus Cryptococcus neoformans. The
samples of bird droppings which used in this study came from Jatinegara Animal
Market located in East Jakarta. Animal markets are examples of places polluted by
bird droppigs such as pigeons. This condition can support the development of the
fungus like Cryptococcus neoformans.
This study used descriptive method with cross-sectional approach with a total of
85 samples has been used. This study aims to determine of the presence of
Cryptococcus neoformans ini pigeon droppings at Jatinegara Animal Market. This
study used the Saboroud Dextrose Agar and Bird Seed Agar culture examination
method as a medium to identification the fungus and conntinued with the direct
examination method with use of Indian ink. The results of this study indicate that 11
of 85 (12,94%) samples of pigeon droppings that have been tested positive for
containing the fungus Cryptococcus neoformans. Based on sensitivity tests for
several antifungals, the fungus Cryptococcus neoformans is still sensitive (100%) to
antifungal ketokonazole. These results indicate that the environmet in the Jatinegara
Animal Market can be a threat to spread of the fungus Cryptococcus neoformans, so
that necesary precautions are taken.
Keyword : Cryptococcus neoformans, piggeon droppings, AIDS sufferers.