Abstract :
Saat ini untuk bahan pengisi campuran aspal beton di Indonesia seperti abu batu, semen
Portland, dan kapur harganya sudah relatif mahal, sehingga hal ini perlu dipikirkan
mencari alternatif untuk pengganti bahan pengisi yang lebih ekonomis. Karet cair
(lateks), juga dapat digunakan untuk menjadi bahan tambah campuran aspal yang
berguna untuk meningkatkan kinerja campuran aspal agar tidak mengalami deformasi
untuk perkerasan jalan dalam jangka panjang. Hal ini yang mendorong penulis untuk
melakukan penelitian tentang bahan pengisi abu ampas tebu yang memiliki kandungan
silika cukup tinggi yang diharapkan mampu meningkatkan aspal beton. Dengan kadar
aspal optimum 6 % (lateks 4 % dari total berat aspal), dan abu ampas tebu dengan
persentase dari berat total filler sebagai pengganti filler abu batu. Maka dari itu dibuat
kadar perbandingan masing ? masing filler abu ampas tebu yakni, 0%, 10%, 20%, 30%,
persentase ini diambil karena dari penelitian sebelumnya menyarankan dilakukan
penelitian dibawah dari kadar filler abu ampas tebu 25%. Pengujian ini dilakukan di
laboratorium jalan raya jurusan Teknik Sipil Universitas Kristen Indonesia dengan
metode Marshall Quotient. Dari hasil yang didapatkan, benda uji yang menggunakan
abu ampas tebu 10% dengan aspal modifikasi lateks dapat menghasilkan campuran
aspal, jika dibandingkan dengan 100% filler abu batu tanpa menggunakan aspal
modifikasi lateks stabilitasnya meningkat sebesar 21% dan Marshall Quotient
meningkat sebesar 23%. Dan bila dilihat dari hasil uji basah kering mendapat
penurunan terbaik pada kadar filler abu ampas tebu 10%.
Kata kunci : lateks, filler abu ampas tebu, stabilitas, marshall quotient, aspal beton,
uji basah kering. / Currently for concrete asphalt mixture fillers in Indonesia such as ash stone, Portland
cement, and limestone the price is relatively expensive, so it is necessary to think about
finding alternatives to substitute more economical filler materials. Liquid rubber
(latex), can also be used to be an asphalt mixture added material that is useful to
improve the performance of asphalt mixture so as not to deform for road pavement in
the long term. This encourages the writer to do research on the bagasse ash filler
material which has a high enough silica content which is expected to increase asphalt
concrete. With an optimum asphalt content of 6% (4% latex of the total weight of
asphalt) and bagasse ash with a percentage of the total weight of the filler instead of
the stone ash filler. Therefore a comparison level of each bagasse ash filler is made, ie
0%, 10%, 20%, 30%, this percentage is taken because previous studies suggest that
research be carried out below the 25% bagasse ash filler content. This test was
conducted in the road laboratory majoring in Civil Engineering, Christian University
of Indonesia using the Marshall Quatient method. From the results obtained,
specimens using 10% bagasse ash with latex modified asphalt can produce the best
mix, compared to 100% rock ash filler without using modified asphalt latex stability
increased by 21% and Marshall Quotient increased by 23%. And when viewed from
the results of the wet wet test got the best reduction in the content of 10% bagasse ash
filler.
Keywords : latex, bagasse ash filler, stability, marshall quotient, concrete asphalt, dry
wet test