Abstract :
Secara historis teologis sebenarnya konsep pendidikan dalam Alkitab
mengakar pada kitab Ulangan 6:4-9 di mana Tuhan bertindak sebagai inisiator
dan motivator utama dalam pendidikan tersebut. Sebab makna pendidikan yang
berasal dari kata dasar Ibrani musar dalam Perjanjian Lama ialah: penyucian,
hukuman atau disiplin, koreksi atau perbaikan, perintah, serta penguasaan diri.
Sedangkan menurut Perjanjian Baru dari kata Yunani paraklesis ialah tindakan
memanggil seseorang kearah tertentu atau untuk membantu, menasehati,
memberikan semangat kepadanya agar hidup bijaksana, melalui teguran, nasehat,
peringatan dan motivasi.
Seluruh konsep pendidikan haruslah bertujuan untuk mengasihi Tuhan
dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan. Selain itu dalam
konsep pendidikan Kristen yang berpusat pada kitab Ulangan 6:4-9 tersebut
keluarga adalah lembaga pertama yang menjadi pusat dari dinamika pendidikan
tersebut. Dengan demikian keluarga Kristen sesungguhnya merupakan
representatif dari figur Allah untuk dapat mengurus dunia ini bagi kemuliaan-Nya
(Kej.1:26). Bahkan keberhasilan Pendidikan Agama Kristen dalam sekolahsekolah Kristen khususnya SLTA (usia remaja yang sangat labil) sangat
membutuhkan peran setiap guru yang bertindak tidak hanya sebagai guru, tetapi
sekaligus sebagai representatif figur orang tua.
Berdasarkan hasil penelitian dalam disertasi ini ditemukan di banyak
sekolah Kristen khususnya SLTA PSKD di Jabodetabek yang belum memiliki
konsep pendidikan berdasarkan kitab Ulangan 6:4-9. Sehingga dalam pengamatan
peneliti hal tersebutlah yang menjadi penyebab utama bagi kegagalan Pendidikan
Agama Kristen SLTA di Jabodetabek. Adapun metode yang digunakan dalam
penelitian ini ialah kualitatif deskriptif fenomenologis sehingga menghasilkan
konsep Pendidikan Agama Kristen yang berdampak optimal bagi pengembangan
Pendidikan Agama Kristen di sekolah-sekolah lanjutan atas di Jabodetabek.
Kata kunci: Konsep, Pendidikan, Perspektif, Pendidikan Agama Kristen
(PAK), Kitab Ulangan, Sekolah Lanjutan Atas, PSKD. / Theological historically education concept in the Bible rooted in
Deuteronomy 6:4-9 where God acts as prime initiator and motivator in that
education. Due to the meaning of education is derived from the Hebrew word
musar, in which in the Old Testament is: cleansing, punishment or discipline,
correction or improvement, command, and also self control. Meanwhile according
to the New Testament the meaning of education comes which means from the
Greek word paraklesis which means: an act of calling someone to a particular
direction or to help, advice, give encouragement to be prudent through critique,
advice, warning and support.
All education concepts must be intended to love God wholeheartedly, with
all soul and strength. Christian educational concept that based on Deuteronomy
6:4-9 views family as a primary institution that becomes the center of the dynamic
of education. Hence, family actually is a representative of God's family to manage
this world for His Glory (Gen. 1:26). The success rate of Christian Education in
every school (especially high school, which all students are teen with unstable
personality) is determined by the teachers role who is not only act as teacher but
also as parent or family representative.
Based on the research within this dissertation, it is found that most in
Christian schools, especially high school in Jakarta have no educational concept
based on Deuteronomy 6:4-9. Therefore in researcher observations this become
the main reason why Christian education has failed in Jabodetabek. The method in
this research is qualitative descriptive phenomenology approach in producing
Christian Education concept that can optimally impacted to the development of
Christian educations in Jabodetabek high schools.
Keywords: Concept, Education, Perspective, Christian Education,
Deuteronomy, High School, PSKD.