Abstract :
Menurut data WHO (World Health Organization), penyakit
kardiovaskular merupakan salah satu penyakit kronis yang bertanggungjawab sekitar
37% angka kematian penduduk Indonesia pada tahun 2014. Resiko penyakit
kardiovaskular salah satunya disebabkan oleh tingginya kadar kolesterol.
Tingginya kadar kolesterol dapat dideteksi dengan menggunakan teknologi
pengolahan citra digital melalui citra iris mata. Dimana iris mata penderita kolesterol
tinggi memiliki cincin kolesterol yang mengelilingi iris mata. Hal inilah yang
dijadikan dasar dalam pembuatan sistem simulasi pengolahan dan pengklasifikasian
citra iris mata berbasis matlab yang dapat mengklasifikasikan citra mata orang
berkolesterol tinggi dan orang yang berkolesterol normal. Pada sistem ini, ada dua
tahapan yang harus dilakukan yaitu pengekstrakan ciri dari suatu citra iris mata yang
ingin dideteksi dan proses pengklasifikasian citra tersebut kedalam suatu golongan
atau kelas. Pada tugas akhir ini, digunakan beberapa proses pemrosesan citra masukan
terlebih dahulu sebelum citra tersbut diekstraksi. Proses yang dilakukan adalah
mengubah citra kedalam bentuk grayscale, menghilangkan noise, menajamkan citra,
mengubah citra dalam bentuk rectangular, dan membentuk ROI. Citra yang sudah
mengalami proses pengolahan inilah yang akan dijadikan citra masukan yang diolah
nilai ekstraksi cirinya menggunakan teknik GLCM (Gray Level Co-occurrence
Matrix). Pada teknik ini maka dihasilkan nilai kontras, korelatif, energi, dan
kehomogenan dari citra tersebut, Nilai tersebut inilah yang akan disimpan dalam suatu
database MATLAB sebagai nilai referensi saat proses pengklasifikasian kelas. Pada
tugas akhir ini menggunakan metode JST (Jaringan Syaraf Tiruan) sebagai metode
pengklasifikasiannya. Dimana pada proses ini menghasilkan nilai uji yang nantinya
akan diklasifikasikan kedalam golongan kolesterol tinggi dan kolesterol normal. Hasil
dari pengujian menunjukkan bahwa kualitas citra masukan yang dijadikan citra
referensi dan citra uji mempengaruhi nilai ekstraksi ciri GLCM. Dan banyaknya
jumlah citra yang dijadikan referensi dan parameter-parameter teknik JST juga
mempengaruhi tingkat keakuratan proses klasifikasi yang dihasilkan. Nilai akurasi
tertinggi yang dihasilkan simulasi ini adalah 100% terhadap citra referensinya dan
90% terhadap citra ujinya.