Abstract :
Indonesia merupakan negara kepulauan, memiliki garis Pantai yang Panjang.
Dengan bentuk wilayah kepulauan, banyak kota besar tumbuh di Pantai dan
sebagian besar penduduk yang bermukim di pesisir pantai adalah nelayan.
Paotere di Kota Makassar dimulai dengan hunian nelayan dan kegiatan
perdagangan yang jumlah penduduk paotere khususnya kelurahan cambaya
sudah meningkat pesat menjadi 6.368 jiwa di Kawasan seluas 5,3 ha (Makassar
dalam angka 2023) Ini berarti terdapat kepadatan penduduk 1.201 orang/ha dalam
penelitian ini hanya mengambil wilayah seluas 2.36 ha. Telah terjadi
permukiman kumuh di wilayah ini karena pertambahan penduduk yang tidak
terkontrol. Sebagai akibat dari penataan wilayah yang kurang terkontrol, maka
timbul permasalahan pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana penduduk dan
juga menurunkan tingkat kualitas lingkungan. Penelitian ini dijalankan dengan
memakai metode penelitian kuantitatif -kualitatif (mixed method) deskriptif
dalam penelitian studi kasus di Kawasan Paotere, Kelurahan Cambaya,
Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar . Adapun sumber data penelitian ini
diantaranya yaitu observasi, dokumentasi dan studi Pustaka. Hasil penelitian ini
menunjukkan Permasalahan kondisi lingkungan yang ditemukan adalah
mengenai jaringan air bersih yang terbatas pada 667 rumah memakai jaringan air
PDAM dari total rumah 1050 rumah dalam Kawasan Paotere, atau sekitar 36%
rumah tidak memiliki jaringan air bersih. Pada perumahan di Kawasan paotere
tidak terdapat tempat pembuangan sampah sementara. Dengan adanya penelitian
diharapkan menjadi dasar untuk Lembaga pemerintahan ataupun swasta untuk
memperbaiki/menata Kembali bangunan dan lingkungan pada Kawasan paotere
kota Makassar.
Kata Kunci : Kawasan, Tata Bangunan dan Lingkungan, Paotere, Kota
Makassar. / Indonesia is an archipelagic country with a long coastline. Due to its archipelagic
nature, many major cities have developed along the coast, and most of the coastal
population consists of fishermen. Paotere in Makassar City began as a fishermen's
settlement and a trading hub. The population in Paotere, particularly in Cambaya
Village, has grown significantly, reaching 6,368 people in an area of 5.3 hectares
(Makassar in Figures 2023). This equates to a population density of 1,201 people
per hectare. This study focuses on a smaller area of 2.36 hectares. Uncontrolled
population growth has led to the emergence of slum settlements in this region.As
a result of inadequate urban planning, issues have arisen regarding the provision
of infrastructure and facilities for residents, as well as a decline in environmental
quality. This study employs a mixed-method approach, combining quantitative
and qualitative descriptive methods, as part of a case study in the Paotere area,
Cambaya Village, Ujung Tanah District, Makassar City. Data sources for this
research include observation, documentation, and literature studies. The findings
reveal environmental issues, such as limited access to clean water. Only 667
houses, out of a total of 1,050 in the Paotere area, are connected to the PDAM
water supply network, meaning approximately 36% of homes lack access to clean
water. Additionally, the residential area lacks a temporary waste disposal site.
This research is expected to serve as a foundation for government or private
institutions to improve and reorganize buildings and the environment in the
Paotere area of Makassar City.
Keywords : Area, Building and Environmental Planning, Paotere, Makassar
City