Abstract :
Kampung Naga adalah perkampungan adat tradisional Sunda yang terletak
di Kabupaten Tasikmalaya, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Jawa Barat.
Kampung Naga terletak sekitar 25 km dari kota Garut dan 32 km dari kota
Tasikmalaya. Kota ini ditetapkan sebagai Kampung Sunda, dimana
masyarakatnya menjunjung tinggi peradaban tradisi leluhur. Kepatuhan kearifan
lokal mengharuskan masyarakat santun ramah, saling menghargai dan ramah
terhadap orang asing. Dengan pola kehidupannya masyarakat sunda terbentuk
pola-pola hunian rumah yang secara arsitektur tertata apik, dimana rumah-rumah
saling berhadapan. Rumah-rumah membentang Timur-Barat dengan pola pintu
menghadap Utara-Selatan. Kampung naga telah dijadikan kampung adat Sunda.
Urgensi dari penelitian ini adalah sejauh mana menghadapi tantangan
peradaban adat istiadat warisan leluhur budaya masih bertahan terhadap pengaruh
dari luar pada Kampung Naga sehingga menjadikan Kawasan wisata
berkelanjutan. Kawasan pariwisata berarsitektur berkelanjutan adalah sebuah
konsep dalam bidang arsitektur dapat bertahan yaitu konsep berkelanjutan yang
mempertahankan sumber daya alam agar berumur lebih lama yang dihubungkan
dengan potensi sumber alamnya. Pola tatanan arsitektur yang terjaga sampai
sekarang.
Penulisan tesis ini ditujukan untuk mengetahui latar belakang sejarah
Kampung Naga, dan desain arsitektur yang didasari teori pola ruang serta matrial
yang digunakan di perkampungan Kampung Naga, dan untuk mengkaji potensi
sejarah budaya dan ekonomi setempat dengan menggunakan metode kualitatif,
studi kasus, sejarah dan wawancara. Dengan demikian, tujuan penulisan ini juga
untuk menghasilkan luaran Kampung Naga sebagai sebuah desa Kawasan wisata
yang terus mengedepankan arsitek berkelanjutan.
Kata kunci: Kampung Naga; Desain Arsitektur; Wisata; Vernakule. / Kampung Naga is a traditional Sundanese village located in Tasikmalaya
Regency, Neglasari Village, Salawu District, West Java. Kampung Naga is located
about 25 km from the city of Garut and 32 km from the city of Tasikmalaya. This
city is designated as a Sunda Village, where the people uphold their ancestral
traditions and civilization. Compliance with local wisdom requires that people be
polite, friendly, respectful and friendly towards foreigners. With the lifestyle of
the Sundanese people, residential patterns have been formed that are
architecturally well-arranged, where the houses face each other. The houses
stretch East-West with door patterns facing North-South and Kampung Naga is a
traditional Sundanese village.
The urgency of this research is the extent to which facing the challenges of
civilization, the customs and traditions of cultural ancestral heritage still survive
external influences on Kampung Naga, thereby making it a sustainable tourism
area. A tourism area with sustainable architecture is a concept in the field of
architecture to support a sustainable concept, namely by maintaining natural
resources so that they last longer in connection with the potential of natural
resources. The architectural order pattern has remained intact until now.
The purpose of writing this thesis is to find out the historical background
of Kampung Naga, to find out the architectural design based on the theory of
spatial patterns and the materials used in the Kampung Naga house village, and to
examine the potential of local cultural and economic history using qualitative
methods, case studies, history and interviews. (After the data is collected it will be
selected, analyzed and interpreted). Thus, the aim of this writing is also to produce
the outcome of Kampung Naga as a tourist area village that continues to prioritize
sustainable architecture.
Keywords: Architectural Design; Dragon Village; Tourist Area; Structural
Materials; Vernacular