Institusion
Universitas Kristen Indonesia
Author
Silalahi, Laura Nathalia Elishabeth
Subject
LAW
Datestamp
2021-10-29 03:25:01
Abstract :
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis Kasus diantara YKCI
melawan PT.Vizta Pratama Inul Vizta Karaoke mengenai Pelanggaran hak cipta
dalam menjalankan rumah bisnis karaoke Inul Vizta yang tidak memiliki izin dan
tidak membayarkan royalti kepada YKCI selaku pemegang hak. Melalui
rangkaian Upaya Hukum Indonesia, menggunakan UUHC 2002 tentang Hak
Cipta sekitar tahun 2013-2015 dengan perjuangan mendapatkan Haknya, Dengan
berlakunya UUHC 2014 akhir dari penyelesaian kasus ini,YKCI diberikan
kewenangan oleh UU untuk mengelola hak ekonomi pencipta, disertai lahirnya
LMK dan LMKN bentukan Pemerintah yang berperan sebagai regulor yang
mampu merumuskan kebijakan yang tepat demi memenuhi para pencipta.
Penulis menggunakan penelitian yuridis normatif dengan menggunakan
UUHC 2014 jo Permenkumham 36 Tahun 2018 Tentang Tata Cara Permohonan
dan Penerbitan Izin Operasional Serta Evaluasi LMK. Penulis menganalsis Kasus
YKCI melawan PT.Vizta Pratama Inul Vizta Karaoke dengan Kedudukan LMK
menurut UUHC 2014 yang dihubungkan dengan keberadaan LMKN.
Kesimpulan yang terdapat dalam penelitian ini YKCI menjadi LMK
pertama di Indonesia dibidang pemungutan royalti karya lagu/musik berdasarkan
UUHC 2014 tentang Hak Cipta menunjukan bahwa YKCI memiliki Legalitas.
Keberadaan LMK dalam Bab XII dari pasal 87-93,telah mendapatkan izin
operasional dari LMKN untuk menarik,menghimpun dan mendistribusikan royalti
sesuai keputusan Kemenkum HAM 2016 tentang Tarif Royalti dengan sistem satu
pintu untuk mehindari kemungkinan pelanggaran hak cipta.
Kata Kunci : Lembaga Manajemen Kolektif,Royalty,Pencipta,
Yayasan Karya Cipta Indonesia,Lagu,Musik / This research was conducted to analyze the case between YKCI and PT.
Vizta Pratama Inul Vizta Karaoke regarding copyright infringement in running
the Inul Vizta karaoke business house that does not have a license and does not
pay royalties to YKCI as the right holder. Through a series of Indonesian Legal
Efforts, using UUHC 2002 on Copyright around 2013-2015 with the struggle to
obtain rights, With the enactment of the 2014 UUHC at the end of the settlement
of this case, YKCI was given the authority by law to manage the economic rights
of creators, accompanied by the birth of LMK and LMKN formed by the
Government who acts as a regulor who is able to formulate the right policies to
satisfy the creators.
The author uses normative juridical research using UUHC 2014 in
conjunction with Permenkumham 36 of 2018 concerning Procedures for
Application and Issuance of Operational Permits as well as LMK Evaluation. The
author analyzes the YKCI case against PT Vizta Pratama Inul Vizta Karaoke with
the LMK position according to UUHC 2014 which is related to the existence of
LMKN.
The conclusions contained in this study that YKCI became the first LMK in
Indonesia in the field of collecting royalties for song / music works based on
UUHC 2014 on Copyright shows that YKCI has legality. The existence of LMK in Chapter XII of articles 87-93, has obtained an operational permit from LMKN to
withdraw, collect and distribute royalties according to the 2016 Ministry of Law
and Human Rights decision regarding Royalty Rates with a one-door system to
avoid possible copyright infringement
Keyword :Royalty ,Collective Management
,Composer,Song,Music