Institusion
Universitas Kristen Indonesia
Author
Suhi, La Ode Muhammad Rusdiansyah
Subject
Architecture
Datestamp
2023-03-29 07:31:23
Abstract :
Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu Kota Metropolitan yang
masuk dalam Kawasan Perkotaan JABODETABEK-PUNJUR (Kawasan
Strategis Nasional). Kondisi tersebut menyebabkan Kota Tangerang Selatan tidak
luput dari fenomena urbanisasi. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, jumlah
penduduk Kota Tangerang Selatan mengalami pertumbuhan 16,61% (BPS, 2020).
Kenyataan tersebut menyebabkan permintaan kebutuhan lahan untuk perumahan
semakin meningkat. Kebutuhan lahan ini, dapat menyebabkan keterancaman
lahan peruntukkan lainnya. Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat
digunakan dalam penataan kota, termaksud untuk mengetahui kesesuaian lokasi
lahan pengembangan perumahan sebagai dasar pengambilan keputusan karena
kemampuannya dalam mengolah data spasial (Rohmat, 2016).
Berdasarkan PERDA No. 3 Tahun 2014, Kota Tangerang Selatan diarahkan
pada hunian berimbang perumahan sederhana berbentuk rumah susun.
Pengembangan sistem hunian vertikal merupakan sebuah solusi dalam
menghadapi masalah peningkatan pertumbuhan penduduk di perkotaan
(Sabarudin, 2018). Sedangkan jenis rumah susun yang dirasa tepat untuk
menangani masalah perkotaan adalah rumah susun sederhana sewa atau biasa
disingkat Rusunawa. Hal tersebut disebabkan status yang digunakan bagi
penghuni Rusunawa adalah status sewa, yang sistemnya dirasa lebih terjangkau
dibandingkan Rusunami maupun Apartemen. Sejalan dengan itu, Rusunawa
dirasa dapat menjawab masalah rendahnya daya beli masyarakat khususnya MBR
juga masyarakat urban perkotaan terhadap harga rumah yang tinggi karena
mendapat subsidi dari Pemerintah.
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk menentukan lokasi lahan terbaik
pengembangan Rusunawa berdasarkan penilaian para ahli. Penilaian lokasi
terbaik ini menggunakan teknis analytical hierarchy process (AHP) yang
dilakukan pada lokasi lahan potensial, merupakan lahan non terbangun yang
sesuai dengan peruntukkan kawasan pengembangan hunian vertikal. Lokasi lahan
potensial tersebut ditemukan dengan menggunakan analisis teknik overlay.
Kriteria atau variabel yang digunakan dalam penentuan lokasi lahan terbaik terdiri
dari aksesibilitas, moda transpotasi, sarana dan prasarana, regulasi hunian vertikal
dan kepemilikan lahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Selanjutnya, metode
pengumpulan data dilakukan sesuai tahapan yaitu telaah dokumen, observasi dan
kuesioner. Sedangkan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non
probability sampling. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat 11 lokasi lahan
potensial dengan luas lahan?1 Ha, yang tersebar di dalam 5 kecamatan berupa
lahan tanah kosong, tanah terbuka dan tegalan. Berdasarkan 2 lokasi lahan
potensial yang dianalisis, lokasi lahan potensial 1 seluas 2,56 Ha, yang terletak di
Kelurahan Pondok Cabe Udik, Kecamatan Pamulang merupakan lokasi lahan
terbaik.
Kata Kunci: Lokasi lahan terbaik, Rusunawa, Kota Tangerang Selatan, Sistem
Informasi Geografis (SIG)./ South Tangerang City is one of the Metropolitan Cities included in the
JABODETABEK-PUNJUR Urban Area (National Strategic Area). This condition
causes the City of South Tangerang to not escape the urbanization phenomenon.
In the last 5 years, the population of South Tangerang City has grown by 16.61%
(BPS, 2020). This fact causes the demand for land for housing to increase. The
need for this land, can cause threats to other designated land. Geographical
Information System (GIS) can be used in urban planning, which is intended to
determine the suitability of land location for housing development as a basis for
make a decision because of its ability to process spatial data (Rohmat, 2016).
Based on PERDA No. 3 of 2014, the City of South Tangerang is directed
towards balanced housing with simple housing in the form of flats. The
development of a vertical housing system is a solution to the problem of
increasing population growth in cities (Sabarudin, 2018). Meanwhile, the type of
flats deemed appropriate for dealing with urban problems is a simple rental
Apartment or commonly abbreviated as Rusunawa. Because the status used for
Rusunawa residents is the rental status, the system is considered more affordable
than Rusunami or Apartments. In line with that, Rusunawa is felt to be able to
answer the problem of the low purchasing power of the community, especially
low-income families (MBR), as well as urban communities against high housing
prices because they receive subsidies from the government.
The purpose of this research is to determine the best land location for the
development of Rusunawa based on expert judgment. The best location
assessment uses the technical analytical hierarchy process (AHP) which is
carried out on potential land locations, which are non-built land that is suitable
for vertical residential development areas. The potential land locations were
found using an overlay technique analysis.